Foreign Flow Dan Potensi Bottoming Pada IHSG ?

Apakah Mulai Ada Foreign Inflow Pada IHSG ?

IHSG mencatat kenaikan sebesar 15.5% dalam 2 hari terakhir setelah Kongres AS menyetujui paket stimulus dari pemerintah AS sebesar total ~USD2 triliun. Paket tersebut disetujui oleh House of Representative AS dan telah ditandatangani oleh Presiden Trump pada Jumat malam. Dengan demikian, setidaknya dapat diharapkan ekonomi AS tidak terpukul lebih dalam karena wabah Corona dan tentu dengan ekonomi AS yang bertahan, ekonomi dunia diharapkan dapat juga tertolong.

The Primary Trader belum melihat adanya Net Foreign Inflow pada IHSG meskipun dalam dua hari terakhir, ada Net Buy Asing dengan total sebesar Rp773 miliar. Angka tersebut masih relatif jauh dibanding Net Sell Asing dari awal tahun 2020 yaitu sebesar Rp12.6 triliun. Meski demikian, mengingat sentimen positif dari paket stimulus AS, tentu setelah resmi ditandatangani, maka Investor akan lebih optimis dari sebelum paket tersebut diresmikan.

Apakah IHSG Sudah Bottom ?

Dari beberapa estimasi penurunan IHSG, The Primary Trader menyukai Weekly Chart berikut :

IHSG telah bergerak dalam Downtrend Channel sejak tahun 2018. Memang Downtrend Channel tersebut terlihat sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang sehingga The Primary Trader masih optimis ketika IHSG mendekati Resistance dari Channel tersebut di 6,300an pada Januari 2020. Namun ternyata terjadi Black Swan (Serangan AS pada Jenderal Iran dan wabah Corona) yang pada akhirnya IHSG turun dan Breakdown Support Downtrend Channel di 5,300 pada awal Maret 2020.

Dengan terjadinya Breakdown tersebut, IHSG terancam turun setidaknya mencapai 4,300 yang merupakan tinggi dari Channel. Namun IHSG terus turun sampai bahkan menyentuh 3,910an (24 Maret 2020). IHSG pada level tersebut mengikuti Downward Projection dari Fibonacci Retracement yang ditarik dari Juli 2018 sampai Maret 2019 yaitu di level 261.8% atau 3,810an.

Berdasarkan garis Fibonacci tersebut, IHSG masih harus Breakout level 161.8% di 4,900an. Namun The Primary Trader meyakini bahwa level 261.8% adalah level yang cukup dalam dan jarang tercapai. Tentu lebih jarang lagi bagi pergerakan harga untuk turun (atau naik) di bawah (atau di atas) 261.8%. Oleh karena itu, The Primary Trader percaya bahwa IHSG sudah mendekati akhir dari Downtrend dan berpotensi segera Bottoming.

Untuk mengatakan Bottom relatif lebih gampang namun untuk mengatakan kapan mulai akan naik dan kembali Uptrend adalah pertanyaan terpentingnya. The Primary Trader percaya bahwa dari penurunan yang dalam dan cepat maka akan diikuti oleh kenaikan yang tinggi dan cepat juga. Namun perlu diingat bahwa tentu ada alasan yang membuat Investor Panic Selling dan alasan tersebut harus terlebih dahulu hilang.

Penurunan saat ini disebabkan oleh Pandemi Wabah Corona. Apabila wabah tersebut belum selesai, belum ditemukan obatnya atau vaksinnya, tentu ada kemungkinan Investor masih akan kembali Panic Selling atau belum memulai Buying yang membuat harga kembali dalam Uptrend.

Melihat ke pergerakan historis, The Primary Trader mencatat bahwa IHSG setidaknya perlu waktu 4x dari lamanya waktu penurunan untuk kembali melewati titik tertingginya sebelum terjadi penurunan. Berikut adalah Update Chart dari artikel tersebut :

Mungkin akan perlu waktu 44 bulan untuk dapat melewati level 6,636 (bukan All Time High) dari level saat ini – dengan asumsi level 3,911 adalah Bottom IHSG. The Primary Trader lebih memilih untuk membeli saham – saham yang memang sudah murah dan bersabar.

Investor Mulai Membeli Saham ?

The Primary Trader melihat IHSG sudah mulai kembali ke Safe Heaven dengan membeli aset Gold setelah sebelumnya terlihat Hoarding Cash. Penguatan USD Index (warna biru) di awal Maret 2020 mengindikasikan Investor sangat khawatir dengan kondisi pasar bahkan emas (XAUUSD, warna orange) pun dijual. Namun dengan adanya stimulus tersebut, dari sejak minggu lalu, emas mulai kembali naik dan USD Index mulai turun.

Live Chart Here

Seiring dengan Investor mulai masuk ke Safe Heaven, ada harapan Investor akan kembali lebih optimis sehingga kembali masuk ke Riskier Asset yaitu Emerging Market, baik Bond maupun Equity. The Primary Trader memperhatikan pergerakan Rupiah (USDIDR), Yield SUN10Yr dan IHSG :

Live Chart Here

The Primary Trader melihat perlemahan USDIDR dari sejak awal tahun mulai selesai dan Rupiah berpotensi mulai menguat terhadap US Dollar. Dengan kata lain, ada potensi Foreign Inflow yang sering dapat diasosiasikan setiap ada penguatan Rupiah.

Yield SUN10Yr yang dari awal tahun 2020 naik pun mulai terlihat berpotensi menurun. Penurunan Yield menandakan kenaikan harga SUN sehingga tentu ada potensi kenaikan harga SUN dalam waktu dekat.

Sesuai dengan teori dasar investasi, ada korelasi negatif antara Yield Obligasi dengan Indeks Saham. Hal ini perlu diingat kembali bahwa ada korelasi yang juga negatif antara Yield Obligasi dengan Harga Obligasi. Bila Yield Obligasi turun maka Harga Obligasi turun. Oleh karena itu, bila Yield Obligasi turun dan Indeks Saham naik (korelasi negatif) maka tentu ada korelasi yang positif antara Harga Obligasi dengan Indeks Saham.

Kenaikan Harga Obligasi dan Harga (Indeks) Saham menandakan Investor mulai membeli Risky dan Riskier Asset. Diikuti dengan penguatan Rupiah (nantinya), The Primary Trader akan menyimpulkan Investor (terutama Investor Asing) akan mulai masuk ke pasar Indonesia. Oleh karena itu, The Primary Trader akan memperhatikan dengan seksama chart Indonesia Three Musketeers.

Stay Healthy and at Home.

Recovery Time Untuk IHSG

Setelah melihat Recovery Time pada Dow Jones, The Primary Trader ingin melihat Recovery Time yang dibutuhkan pada IHSG. Berikut adalah informasi yang The Primary Trader rangkum :

Asian Crisis 1997 – 2004

Krisis keuangan Asia di tahun 1997 – 1998 memicu terjadinya reformasi besar bagi Indonesia. Oleh karena itu, IHSG memerlukan waktu yang relatif lebih lama untuk pulih (dibanding Singapura meskipun IHSG lebih cepat Recovery dari Malaysia dan Thailand). IHSG turun sebesar -65% dalam waktu 15 bulan (dihitung dari Highest ke Lowest) dan perlu waktu 63 bulan untuk melewati level tertinggi sebelum Market Crash.

Global Financial Crisis 2008

Pada tahun 2008, seluruh dunia ikut mengalami penurunan termasuk IHSG. Saat itu, IHSG turun sebesar -62% dalam waktu 9 bulan. Perlu waktu selama 17 bulan untuk berhasil melewati level tertinggi dari tahun 2008. Ekonomi Indonesia relatif bertahan karena banyak mengandalkan konsumsi domestik. Namun karena Hot Money yang tinggi maka IHSG pun menderita penurunan yang sangat dalam.

Small Crisis 2013 – 2015

Ada beberapa penyebab terjadinya krisis di tahun 2013 dan 2015 antara lain : China Slowdown, Fed Rate Uncertainty sampai US Govt. Shutdown. IHSG mengalami penurunan sebesar -26% di tahun 2013 dan bertahan hanya dalam waktu 3 bulan. Namun IHSG perlu waktu 16 bulan untuk melewati level tertinggi sebelum Bear Market (yang resmi terjadi setelah turun -20%). Tidak lama setelah IHSG berhasil melewati level tertinggi dari tahun 2013, kembali terjadi krisis tahun 2015 yang membuat IHSG turun -26% dalam waktu 5 bulan. IHSG pun membutuhkan 24 bulan untuk melewati level tertinggi dari tahun 2015.

Kesimpulan

Melihat sejarah singkat IHSG, The Primary Trader mencoba melihat Recovery Time Ratio atau waktu yang dibutuhkan untuk Recovery setelah terjadinya Bear Market. Setelah melihat empat kali krisis, The Primary Trader menghitung IHSG perlu waktu 4x lebih lama untuk dapat melewati level tertinggi dari awal terjadinya penurunan atau krisis.

CrisisDrawdownMonthsRecovery MonthsRecovery Time Ratio
Asian Crisis-65%15634.2
Global Financial Crisis-62%9171.9
Small Crisis 2013-26%3165.3
Small Crisis 2015-26%5244.8
Average4.1
Crisis dan Recovery Time Pada IHSG

Mengasumsikan IHSG saat ini (di 3,911) adalah Bottom dan menggunakan Recovery Time Ratio rata – rata yaitu 4x dari waktu penurunan maka IHSG perlu waktu selama 44 bulan untuk dapat melewati level tertinggi dari sebelum penurunan (di level 6,636) di April 2019. Perlu diingat bahwa level tersebut bukanlah level All Time High IHSG. Di Februari 2018, IHSG mencapai level tertingginya yaitu di 6,693. Sejak saat itu, IHSG terus berada dalam Downtrend hingga saat ini. Dengan demikian, bila mengacu pada titik All Time High tersebut maka IHSG perlu waktu 25 bulan x 4 atau 100 bulan untuk dapat membentuk New All Time High baru – dan itupun apabila Lowest dari Covid-19 Crisis ini di level 3,911.

Semoga wabah Covid-19 segera selesai.

Salah Satu Kenaikan Terbaik DJIA dan S&P500

Harapan adanya stimulus fiskal yang sangat besar (~USD2 triliun) dari pemerintah AS membuat Investor optimis sehingga terjadi kenaikan yang tinggi pada bursa saham AS (kenaikan terbesar Dow Jones dari sejak tahun 1933 dan kenaikan terbesar S&P500 dari sejak tahun 2008). Perlu dicatat bahwa meskipun stimulus belum disetujui namun dapat diharapkan akan disetujui dalam waktu dekat.

S&P500 naik sebesar 9.3% dan berhasil Breakout Down Trendline dari sejak awal Maret 2020. Breakout ini mengindikasikan Downtrend yang telah terjadi sejak akhir Februari 2020 berpotensi selesai. Namun The Primary Trader melihat adanya ancaman Dead Cat Bounce atau mungkin kenaikan tersebut adalah bagian dari Technical Rebound (kenaikan ditengah Downtrend).

Untuk dapat mengakhiri Downtrend, menggunakan Fibonacci Retracement dari pertengahan Februari 2020 (S&P500 di level 3,400) sampai level terendah tahun 2020 di 2,180an, S&P500 harus bisa melewati area 2,930 atau Fibonacci Ratio di 0.62%. Selama S&P500 tidak dapat melewati 2,930 (perlu kenaikan ~20% dari level saat ini), maka The Primary Trader percaya kenaikan tersebut adalah Technical Rebound yang belum merubah Downtrend.

S&P500 telah turun sebesar -35% dalam waktu ~23 hari perdagangan sehingga penurunan ini adalah salah satu yang tercepat sepanjang sejarah S&P500. Begitupun dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang telah turun sebesar -38% dalam waktu ~26 hari perdagangan. S&P500 saat ini berada di level tahun 2016 (2,130) yang tampaknya dapat menjadi Support kuat.

The Primary Trader percaya bahwa aksi yang cepat akan mendapat reaksi yang cepat juga. Oleh karena itu, penurunan yang cepat seperti saat ini maka akan diikuti juga dengan kenaikan yang cepat. Dengan asumsi bahwa penurunan yang cepat disebabkan oleh wabah Covid-19 maka kenaikan cepat juga disebabkan oleh wabah Covid-19 tersebut berangsung – angsur berakhir.

Reaksi cepat yang muncul tentu tidak sama persis dengan aksi cepat. Investor perlu waktu untuk mempercayai bahwa hal – hal yang membuat Panic Selling telah berakhir. Oleh karena itu, setidaknya perlu waktu 2-10x lebih lama untuk perlahan membuat Investor kembali berinvestasi. Berdasarkan sejarah pada Dow Jones, berikut adalah waktu yang dibutuhkan untuk Recovery :

Tentu ada harapan pasar saham dan pasar keuangan lain akan Recovery setelah Market memperbaiki kekurangannya (yang menjadi alasan terjadi krisis). Namun tentu Bear Market perlu waktu untuk berubah menjadi Bull Market dan Investor umumnya lebih waspada dan tidak mudah percaya sehingga memperlama terbentuknya Bull Market.

Kembali Menuju MA200

Menuju MA200

Salah satu sifat harga terhadap Moving Average (MA) adalah bahwa harga cenderung akan kembali menuju MA setelah naik atau turun sampai level tertentu. Oleh karena itu, ada peluang Beli ketika harga sudah di bawah MA.

The Primary mencatat beberapa saham yang saat ini harganya sudah di bawah MA200 namun apabila saham tersebut naik menuju MA200 maka perlu kenaikan > 100% (dari harga saat ini). Dengan kata lain, apabila harga saham naik menuju MA200 atau Rata – Rata 200 Hari Terakhir (seperti sifat harga terhadap MA) maka ada potensi Return sebesar > 100%. Berikut adalah saham – sahamnya :

SectorStocksCloseMA200% Rise to MA200
CPOAALI      4,400      11,064151.45%
CPOLSIP         530        1,195125.56%
MineralTINS         358           885147.21%
MineralANTM         352           852142.11%
MineralINCO      1,460        3,226120.96%
Oil&GasPGAS         650        1,918195.02%
Oil&GasMEDC         314           732133.13%
Oil&GasBRPT         490        1,004104.86%
AutoGJTL         244           597144.76%
PaperTKIM      4,030      10,226153.76%
PoultryMAIN         428           972127.01%
RetailRALS         470        1,154145.52%
RetailWOOD         300           697132.47%
RetailMAPI         446           970117.60%
TextileSRIL         132           283114.19%
ConstructionWSKT         422        1,532262.97%
ConstructionPTPP         520        1,674221.95%
ConstructionADHI         388        1,232217.53%
ConstructionWIKA         775        2,034162.42%
Industrial AreaBEST          98           239144.03%
Industrial AreaDMAS         127           285124.63%
Oil&GasELSA         132           309134.41%
Oil&GasAKRA      1,590        3,678131.33%
Oil&GasESSA         120           260116.40%
PrecastWSBP         115           315173.96%
PrecastWTON         194           464139.10%
TelecomEXCL      1,485        3,118109.98%
TollJSMR      2,510        5,284110.51%
BankingBBTN         880        2,072135.41%
BankingBBNI      3,390        7,623124.88%
BankingPNBN         630        1,261100.21%
ResidentialSMRA         428        1,068149.56%
ResidentialPWON         292           612109.71%
ResidentialCTRA         520        1,057103.18%
ResidentialBSDE         640        1,295102.39%
ResidentialBKSL          50           100100.50%
Berdasarkan harga penutupan sesi 1 – 23 Maret 2020

Memang ketika Downtrend maka harga saham akan turun dan tentunya MA200 pun akan ikut turun. Oleh karena itu, untuk memastikan potensi Return (selisih antara harga saham dengan MA200) tetap sebesar > 100% maka The Primary Trader memilih saham – saham yang dapat naik di atas 120%. Dengan demikian, berikut adalah saham – saham tersebut :

SectorStocksCloseMA200% Rise to MA200
CPOAALI      4,400      11,064151.45%
CPOLSIP         530        1,195125.56%
MineralTINS         358           885147.21%
MineralANTM         352           852142.11%
MineralINCO      1,460        3,226120.96%
Oil&GasPGAS         650        1,918195.02%
Oil&GasMEDC         314           732133.13%
AutoGJTL         244           597144.76%
PaperTKIM      4,030      10,226153.76%
PoultryMAIN         428           972127.01%
RetailRALS         470        1,154145.52%
RetailWOOD         300           697132.47%
ConstructionWSKT         422        1,532262.97%
ConstructionPTPP         520        1,674221.95%
ConstructionADHI         388        1,232217.53%
ConstructionWIKA         775        2,034162.42%
Industrial AreaBEST          98           239144.03%
Industrial AreaDMAS         127           285124.63%
Oil&GasELSA         132           309134.41%
Oil&GasAKRA      1,590        3,678131.33%
PrecastWSBP         115           315173.96%
PrecastWTON         194           464139.10%
BankingBBTN         880        2,072135.41%
BankingBBNI      3,390        7,623124.88%
ResidentialSMRA         428        1,068149.56%

The Primary Trader menyukai Sektor CPO karena secara domestik, permintaan CPO berpotensi tinggi seiring dengan adanya program pemerintah yaitu B30 tahun 2020 dan B50 di tahun 2021. Terlepas dari permintaan internasional (dan adanya diskriminasi Eropa), dengan adanya permintaan domestik tersebut, harga CPO diharapkan dapat terjaga. The Primary Trader menyukai LSIP namun AALI menarik karena masuk ke dalam indeks SRI-Kehati yang secara otomatis (berdasarkan sentimen) akan lebih menarik. LSIP adalah pemain CPO murni (~91% pendapatan berasal dari CPO) serta memiliki korelasi tertinggi dengan harga CPO.

Sebagai negara dengan ekonomi domestik konsumsi dan yang sangat mungkin lebih cepat pulih setelah wabah Covid-19 selesai adalah sektor Consumer antara lain Poultry (MAIN) dan Retail (RALS). Saham MAIN banyak menjual daging unggas (ayam) yang memang menjadi protein hewani utama masyarakat Indonesia. Selain itu, dengan adanya stimulus untuk masyarakat kelas bawah, RALS berpotensi menjaga penjualannya untuk tidak turun terlalu dalam. The primary Trader lebih memilih MAIN dibanding RALS karena sektor Poultry (konsumsi makanan) seharusnya akan lebih dahulu membaik.

Di saat suku bunga rendah saat ini (BI 7DRR Rate sebesar 4.5% dan stimulus – stimulus di sektor properti), tentu sektor Properti (SMRA) dapat menjadi pilihan utama. SMRA pun cukup banyak menjual properti berupa rumah tapak (Landed House) dengan harga yang relatif murah dibanding BSDE (meski tetap CTRA yang paling murah).

Sektor yang paling The Primary Trader sukai adalah Industrial Area yaitu DMAS. Dengan cadangan lahan terluas (~1,430 ha) diantara emiten Industrial Area, DMAS seharusnya mendapat keuntungan dari tren industrialisasi Indonesia. Setelah disahkannya Omnibus Law, seharusnya akan banyak Foreign Direct Investment dalam bentuk pembangunan pabrik.. Di tahun 2020, DMAS memiliki Inquiries sebanyak 150 ha (relatif sama seperti tahun 2019).

Dengan demikian, mengandalkan kemungkinan harga saham akan berbalik mendekati MA20-nya maka The Primary Trader menyukai saham LSIP, MAIN, SMRA dan DMAS.

Menunggu Stimulus Dari Pemerintah AS

Investor sedang menunggu pengumuman stimulus yang sedang disiapkan oleh Pemerintah AS. Dikabarkan rencananya adalah sebesar USD2 triliun, lebih tinggi dari estimasi awal sebesar ~USD1 triliun. Diharapkan minggu depan akan ada pengumuman dan tentu stimulus ini diharapkan dapat mempercepat penganggulangan wabah Corona (di AS) dan mengurangi dampak negatif wabah terhadap ekonomi AS yang pada akhirnya dapat mempengaruhi ekonomi global.

The Primary Trader melihat Investor tampak optimis terhadap stimulus tersebut karena menjelang akhir pekan, VIX Index tampaknya turun di bawah 72 atau di bawah Up Trendline yang dapat membawa VIX naik menyentuh level yang sama seperti pada saat krisis 2008 (Global Financial Crisis).

Live Chart Here

Penurunan VIX mengindikasikan Investor melihat penurunan risiko pada pasar keuangan. Namun perlu diingat bahwa Bear Market yang terjadi saat ini disebabkan oleh virus Corona sehingga selama wabah dan penyakit tersebut belum dapat dikendalikan maka Bear Market masih dapat bertahan.