Trend&Pattern 210128 : Sulit Breakout Resistance Highest 2020

Dari awal dibuka pada 21 Januari 2021 sampai saat ini, IHSG telah turun sebesar 5.6% selama 5 hari perdagangan. Sekilas, rata – rata IHSG turun setiap harinya adalah sebesar 1.1% – sebuah angka penurunan yang besar. Pertanyaan kemudian muncul, apakah IHSG masih memiliki potensi Uptrend dan Bullish di tahun 2021?

The Primary Trader ingin mencoba menjawab potensi Uptrend IHSG sepanjang tahun 2021 menggunakan Analisis Teknikal. Meski demikian, sebagai Spoiler yang sudah jelas, pertanyaan yang tepatnya adalah apakah Pandemi Covid-19 dapat berakhir di tahun 2021?

IHSG Sulit Breakout Resistance Highest 2020

Di awal Januari 2021 ini, IHSG terlihat sedang Breakout Resistance dari Highest di tahun 2020 – level yang terjadi karena optimisme Trade Deal AS – China dan seminggu sebelum Wuhan Lockdown yaitu di level 6,348. Ternyata level tersebut relatif sulit untuk di-Breakout. Menurut The Primary Trader, secara sentimen memang level tersebut sulit dilewati karena penyebab level 6,348 menjadi Highest di tahun 2020 masih ada yaitu Covid-19.

Dengan demikian, pertanyaan berikutnya adalah ke level berapa IHSG apabila IHSG masih sulit Breakout 6,348. Saat ini menurut The Primary Trader, Investor sedang menunggu beberapa hal baik selain terkendalinya Covid-19 antara lain :

  • Masuknya Investor Asing berbondong – bondong ke dalam pasar modal Indonesia ataupun dalam bentuk FDI
  • Peraturan Pemerintah terkait UU Omnibus Law yang positif dan sesuai ekspektasi pasar dimana akan dirilis pada Februari 2021
  • Laporan keuangan emiten 4Q20 dan 1Q21

Sebelum sentimen positif yang signifikan tersebut muncul, The Primary Trader perkirakan IHSG dapat terus melemah mendekati ~5,500 (Resistance penting di pertengahan tahun 2020) yang menjadi penentu awal Uptrend jangka panjang. Support terdekat IHSG saat ini yang cukup kuat menurut The Primary Trader ada di 5,800an. Walaupun mungkin turun dalam, perlu diingat bahwa selama tidak turun di bawah level 5,500, IHSG masih memiliki potensi Uptrend jangka panjang dan tentu hal tersebut yang paling penting saat ini.

Indicator Analysis Pada IHSG

Analisis menggunakan 3 Moving Average yaitu MA20, MA60 dan MA200 serta menggunakan modifikasi indikator yaitu MA Direction (arah MA), saat ini belum ada Moving Average yang sedang mengarah ke bawah. Fakta IHSG berada di bawah MA20 memang menunjukkan Bearish namun tentu dapat dikatakan Downtrend jangka pendek karena IHSG masih di atas MA60 dan MA200. Apabila dilihat MA60 Direction dan MA200 Direction yang masih di atas 0 (termasuk MA20 Direction), Uptrend jangka panjang IHSG masih cukup valid.

Menggunakan angka sentimen Investor yaitu 52 Week, saat ini IHSG sedang menguji Support dari Mid Level antara Highest – Lowest IHSG dalam 52 Week terakhir di 5,950an. Meski pun turun dalam, sepanjang awal Januari 2021 lalu, IHSG beberapa kali membentuk New Highest 52 Week – hal ini menunjukkan sentimen yang positif dari Investor.

Sector dan Saham Pilihan

Meskipun strategi terbaik pada saat IHSG berpotensi turun namun dengan menggunakan Analisis Teknikal, ada beberapa ide sektor dan saham pilihan. Menggunakan grafik Trend and Momentum in Sectors, sektor Paper dan Tower layak diperhatikan karena berada di atas 50 yang artinya Uptrend sementara Stochastic Oscillator -nya berada di area netral. Walaupun Uptrend, sektor Healthcare patut diwaspadai karena dalam kondisi Overbought.

Walaupun dalam kondisi Downtrend (Trend Meter atau %B berada di bawah 50), sektor seperti Retail, CPO, Oil&Gas, Toll, Construction, Industrial Area dan Telecom dapat diperhatikan dengan seksama. Alasan utamanya adalah sektor – sektor tersebut mencatat kondisi Stochastic Oscillator yang masih netral.

Pilihan terbaik memang adalah saat Stochastic Oscillator dalam kondisi Oversold. Namun apabila dalam kondisi Downtrend (seperti sektor Textile, Coal, Cigarettes dan Multifinance), The Primary Trader kurang menyukainya.

The Primary Trader memilih saham INKP dari sektor Paper dan TBIG dari sektor Tower.

INKP : Masih dalam Uptrend

INKP telah berada dalam Uptrend sejak akhir November 2020 dimana Middle Band jelas mengarah ke atas. Saat ini IHSG sedang mendekati Middle Band yang masih mengarah ke atas dan Stochastic Oscillator sedang berada di area Overbought.

Pergerakan saham INKP yang relatif Flat mengindikasikan potensi Bullish Continuation – yang berarti masih ada peluang INKP melanjutkan Uptrend. Untuk jangka pendek, Resistance ada di Rp14,000an.

TBIG : Strategi “Highlander”

Salah satu strategi yang The Primary Trader kenal adalah Highlander yang berarti “bermain” pada saham – saham yang sedang bergerak naik tinggi. Akan tetap tentu dengan tetap berhati – hati. TBIG adalah salah satu saham yang masih melanjutkan kenaikan di Januari 2021 dan jauh dari peers-nya yaitu TOWR.

TBIG berada di kisaran Upper Band yang berarti cenderung Overshoot (di atas Upper Band). Namun kecenderungannya adalah apabila suatu saham berada di dekat Upper Band atau bahkan sering Overshoot maka saham tersebut berada dalam Uptrend yang kuat. Tentu hal ini adalah salah satu pilihan terbaik untuk Trading jangka pendek.

Saat ini Stochastic Oscillator mulai berpeluang Crossover dan menandakan sinyal Buy. Kenaikan TBIG dalam jangka pendek berpotensi kembali menyentuh Rp2,400. The Primary Trader tidak selalu menyenangi strategi Highlander dan akan mempertimbangkan ulang Trading TBIG.

Cara Paling Mudah Dan Paling Baik Untuk Memilih Saham Yang Baik

The Primary Trader sering mendengar saran untuk memilih saham berdasarkan aspek – aspek yang masuk ke dalam koridor Analisis Fundamental. Tentu saran Warren Buffet dan Lo Kheng Hong (Warren Buffet-nya Indonesia) yang menjadi acuannya. The Primary Trader pun perlahan mengaplikasikan nasihat tersebut yang pada intinya memilih saham terbaik secara bisnis maupun valuasi dan menyimpannya dalam waktu yang lama. Meski saran tersebut nampaknya adalah saran terbaik namun The Primary Trader yakin bahwa saran tersebut tidak untuk semua orang.

Dalam hal memahami bisnis saja, tidak semua orang dapat memahami dengan komprehensif bisnis suatu emiten. Tidak terbayang seorang Ibu Rumah Tangga atau siswa SMA memahami laporan keuangan lalu menilai valuasi harga saham. Meskipun relatif mudah dan dapat dilakukan dalam waktu singkat, pada akhirnya masing – masing Investor / Trader akan berhadapan dengan konsensus pasar yaitu : “Kalau Saham ABCD Itu Bagus dan Murah Menurut Saya, Apakah Saham ABCD juga Bagus dan Murah Menurut Pasar?”

Pada akhirnya, Investor / Trader harus berhadapan dengan Fairness serta Keterbukaan (Full Disclosure) dari Emiten untuk melakukan Analisis Fundamental. Setelah itu, Investor / Trader akan berhadapan dengan Market Consensus untuk melihat apakah kebanyakan Investor / Trader juga melihat Emiten tersebut sebagai suatu investasi yang menarik. Bila Investor / Trader lain juga melihat Emiten tersebut sebagai suatu investasi yang menarik maka harga saham-nya akan naik, terlepas dari apakah aspek Fundamental-nya juga baik atau tidak.

The Primary Trader yang cenderung merupakan seorang Trader dibanding Investor melihat bahwa yang terpenting adalah Market Consensus. Sebagai satu pihak kecil ditengah struktur pasar modal, tentu kita juga harus melihat aktifitas Investor / Trader lain. Oleh karena itu, The Primary Trader meyakini bahwa tidaklah cukup bagi seorang Investor / Trader yang berpengalaman (terlebih lagi yang belum berpengalaman) untuk melakukan analisis sendiri dalam menentukan saham pilihan.

Dari pengalaman The Primary Trader sebagai bagian dari tim Research Analyst di sekuritas, banyak Analis Fundamental seringkali menjadikan Bloomberg Consensus Estimate sebagai acuan. Artinya, satu orang Analis Fundamental akan melihat target price dari Analis Fundamental lain berdasarkan data yang di-compile oleh Bloomberg. Nasihat bijak dari analis yang berpengalaman adalah sebagai berikut :”Kalau target price atau estimasi laporan keuangan kita jauh dari Consensus Bloomberg, kemungkinan besar ada yang salah dari model kita.”

Hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya Consensus dan bahkan Consensus (suara banyak orang) dapat dianggap sebagai suatu kebenaran di pasar modal. Perlu dicatat bahwa kebenaran di dunia ini mungkin relatif namun di pasar modal, kebenaran berarti adalah harga saham Naik atau Turun. Jargon di dunia investasi adalah “Market Is Always Right”.

Konsensus Daftar Saham – Saham Terbaik

The Primary Trader memposting Instagram untuk membahas cara mudah memilih saham terbaik sebagai berikut :

Dari > 700 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), The Primary Trader yakin tidak semua saham layak dipilih. Meskipun mungkin secara aspek Analisis Fundamental semua saham tersebut bagus (walau rasanya mustahil), tidak semua saham di Bursa Efek Indonesia memenuhi Likuiditas yang cukup untuk pantas di-Trading-kan. Dengan demikian, jelas kita harus lebih berhati – hati lagi dalam memilih.

Menurut The Primary Trader, cara termudah dan terbaik untuk memilih saham yang baik adalah dengan memilih saham yang masuk ke dalam indeks tertentu. Sebagai informasi, The Primary Trader banyak menggunakan materi dari BEI (Stock Index Handbook) yang sudah di upload di Slideshare berikut :

Ebook dapat di download di website BEI.

Menurut BEI, manfaat indeks antara lain 1) Mengukur Sentimen Pasar, 2) Dijadikan Investasi Pasif, 3) Benchmark Investasi Aktif, 4) Proksi Mengukur dan Membuat Return dan 5) Proksi untuk Alokasi Aset. The Primary Trader ingin mengelaborasi manfaat indeks nomor 2 dan 3 dan menyimpulkan bahwa memilih saham yang masuk ke dalam indeks adalah cara terbaik dalam melakukan seleksi saham.

Berdasarkan laporan tahun 2019, BEI memiliki indeks sebagai berikut :

Dari klasifikasi indeks di atas, ada beberapa jenis indeks yaitu Headline, Sector, Thematic dan Factor. Jenis indeks tersebut adalah penggolongan secara garis besar. Namun bila dilihat lebih lanjut, setidaknya ada dua penggolongan yang utama yaitu : 1) Likuiditas dan 2) Analisis Fundamental.

Hampir semua saham yang masuk ke dalam indeks (terlebih lagi apabila tujuan indeks tersebut adalah memilih saham yang “cair”) memiliki likuiditas yang tinggi. Dengan demikian, sebenarnya sudah cukup untuk memilih saham – saham yang masuk ke dalam indeks tertentu. The Primary Trader meyakini sebagus apapun bisnis emiten atau semenarik apapun valuasi saham tersebut, semuanya akan percuma bila saham tersebut tidak memiliki likuiditas yang cukup. Artinya adalah akan percuma bila Investor / Trader sulit membeli atau menjual saham tersebut. Dengan demikian, memilih saham yang masuk ke dalam indeks berarti kita sudah melakukan seleksi hal paling krusial dalam investasi dan trading yaitu likuiditas.

Fundamental Sesuai Konsensus Atau Sebaliknya

Dalam hal menentukan saham dengan aspek fundamental yang bagus atau tidak, Investor atau Trader dapat memilih mana saham yang baik. Namun apabila Investor atau Trader lain (konsensus) tidak setuju – dan tidak membelinya maka tentu saham tersebut tidak naik. Hal inilah yang menurut The Primary Trader akan kurang optimal apabila opini kita tidak sama dengan opini pasar (Market Consensus). Salah satu cara untuk optimal yaitu memilih saham yang “disukai” pasar adalah dengan memilih saham – saham yang ada di indeks.

Kenapa ? Jawabannya ada di tujuan indeks itu sendiri.

BEI ingin agar indeks yang sudah disediakan dapat dijadikan produk investasi pasif dan benchmark (acuan) investasi aktif. Artinya adalah BEI ingin ada Fund Manager yang membuat Reksa Dana yang kinerjanya mengacu pada indeks tersebut. Arti yang lebih jelasnya lagi adalah BEI ingin agar Fund Manager memilih (alias membeli) saham – saham yang ada di dalam indeks tersebut untuk masuk ke Reksa Dana yang kinerjanya mengacu pada indeks tersebut.

Dengan demikian, suka atau tidak suka, bagus atau tidak bagus, hampir semua saham – saham yang ada di indeks tersebut akan dibeli oleh Fund Manager. Dengan demikian lagi, karena dana yang dikelola para Fund Manager sangat besar, maka The Primary Trader menganggap Fund Manager sebagai Market Consensus yang mudah dibaca (!).

Selain dari likuiditas, pembuat indeks seperti BEI, media massa Bisnis Indonesia dan Investor, MNC Group dan Pefindo pun menyusun suatu indeks dimana faktor Analisis Fundamental sebagai salah satu faktor utama dalam seleksi saham. Diambil dari dokumen di atas, berikut adalah beberapa deskripsi dari MNC36, Investor33, Pefindo25 dan Pefindo I-Grade :

Salah satu faktor dari keempat indeks tersebut adalah berdasarkan aspek fundamental yaitu rasio dan kinerja keuangan serta peringkat dari obligasi emiten. Dengan demikian, saham yang masuk ke dalam indeks (misalnya) Investor33 berarti sudah dapat dianggap bagus secara fundamental. Namun seperti tadi pemikiran The Primary Trader, saham yang dianggap bagus oleh Majalah Investor (pembuat indeks Investor33) bukan berarti dianggap bagus dan dibeli juga oleh Investor lain. Disinilah pentingnya dan perannya Fund Manager.

Fund Manager yang mengelola Passive Fund seperti Reksa Dana Indeks atau ETF Indeks adalah pihak yang “membeli” saham – saham yang masuk ke dalam indeks tertentu tersebut. Dengan kata lain, apabila Reksa Dana Indeks tersebut mengacu kepada indeks Investor33 maka Fund Manager akan membeli semua atau sebagian besar saham- saham yang ada di Investor33.

Berdasarkan data OJK, pada Desember 2020, ada sedikitnya Rp 20 triliun Reksa Dana yang telah membeli saham – saham sesuai indeks tertentu (antara lain IDX30, LQ45, MNC36, Bisnis27, SMInfra18, SRI-Kehati, JII, Pefindo I-Grade, IDX Value30 dan IDX High Dividend 20). Dengan demikian tentunya saham – saham yang masuk ke dalam indeks – indeks tersebut dapat dikatakan baik secara fundamental dan dianggap baik oleh pasar (karena dibeli oleh Fund Manager yang mengelola Reksa Dana dan ETF tersebut).

Kesimpulan

The Primary Trader akan selalu menggunakan saham – saham yang telah masuk ke dalam suatu indeks dalam rangka membuat Stock Watchlist. Saat ini The Primary Trader telah memfokuskan Stock Watchlist pada saham IDX80. Namun seiring dengan semakin banyak Reksa Dana atau ETF yang mengacu kepada indeks tertentu, The Primary Trader akan menambah Stock Watchlist-nya tidak hanya terhadap saham IDX80.

The Primary Trader memaklumi apabila Investor atau Trader, terutama pemula, yang ingin melakukan analisis terhadap semua saham BEI atau diluar indeks – indeks tertentu. Namun karena Learning Curve-nya yang panjang, sebaiknya waktu untuk membuat Stock Watchlist atau saham – saham incaran dikurangi dan tenaga untuk melakukan komprehensif analisis (terutama bila menggunakan Analisis Fundamental) ditambah.

Bagi para Trader yang seringkali memiliki appetite lebih terhadap Risiko, pada saham – saham yang masuk ke dalam suatu indeks, jangan ragu untuk membeli dalam jumlah banyak apabila kondisi Analisis Teknikal-nya mendukung. The Primary Trader tidak akan ragu untuk merekomendasikan suatu saham IDX80 (misalnya) ketika mendapat sinyal Alert Buy dalam kondisi New Uptrend.

Akhir kata, The Primary Trader ingin berpesan untuk menghabiskan tenaga pada hal yang kritikal dan penting.

Happy Hunting !

Trend&Pattern 210122 : Investor Asing Datang, IHSG Memperkuat Awal Uptrend Sepanjang Tahun 2021

Net Buy Investor Asing

Berdasarkan data Net Buy Sell Asing (NBSA) yang ada pada chart The Primary Trader, bulan Januari 2021 adalah Wave ke-3 masuknya Investor Asing dari sejak tahun 2020. Wave pertama masuknya Investor Asing adalah pada bulan Mei 2020 (setelah PSBB pertama berubah menjadi PSBB Transisi) dan Wave kedua terjadi pada November 2020 setelah disahkan UU Omnibus Law. Secara akumulasi, Investor Asing pun mulai mengakhiri tren Net Sell-nya di bulan November 2020 dan pada Januari 2021 ini mulai terlihat indikasi awal dari tren Net Buy Asing.

Wave ketiga Net Buy Asing sangatlah penting mengingat saat ini IHSG sedang dalam proses Breakout Resistance di 6,348 yang merupakan level Resistance penting. Sebagai pengingat, level 6,348 adalah Highest sepanjang tahun 2020 dan hari tersebut bertepatan dengan ditandatanganinya Trade Deal tahap pertama antara AS dengan China. Sayangnya, seminggu kemudian China melakukan Lockdown massal dan membatalkan mudik Chinese New Year dan menjadi awal pandemi Covid-19 yang masih terjadi sampai sekarang.

IHSG telah memulai proses Breakout Resistance 6,348 di minggu ke-2 Januari 2021 setelah Rally di awal perdagangan tahun 2021. Rally tersebut pun sebenarnya bagian dari akhir Sideways jangka pendek dari Desember 2020 (memasuki suasana libur Natal dan Tahun Baru dan Lebaran). Oleh karena itu, The Primary Trader melihat Sideways IHSG dari sejak pertengahan Januari 2021 sebagai fase istirahat (Rest) sebelum tentunya akan kembali Rally sebagai bagian dari Uptrend. Karena fase Sideways-nya berada di kisaran level Resistance dari Highest In 2020 maka tentu The Primary Trader melihat hal ini sebagai proses Breakout Resistance.

Pantauan Saham Dengan Net Buy Asing

Grafik di atas adalah saham – saham IDX80 yang mencatat Net Buy Asing selama 5 dan 20 hari terakhir. Dari grafik terlihat saham – saham Interest Related seperti Bank mencatat Net Buy yang tinggi dan cukup wajar. Namun ada beberaap saham yang Non-Big Caps yang mencatat Net Buy Asing yang tinggi yaitu KLBF, ANTM, INCO dan TOWR. ANTM dan INCO memang sejak 2H20 ramai menjadi bahasan dan incaran Investor, Trader dan Spekulator sehingga tidak perlu dibahas.

The Primary Trader mencatat KLBF dan TOWR yang mulai terlihat menarik bagi karena Net Buy Asing tersebut dan berdasarkan Analisis Teknikal. The Primary Trader telah membahas KLBF dan dapat dilihat di edisi Trend&Pattern 210118.

Beberapa saham Consumer Related seperti SCMA, TKIM dan ERAA pun cukup mencatat Net Buy Asing yang tinggi sehingga menarik perhatian The Primary Trader.

TOWR : Mengakhiri Fase Throwback Dan Bersiap Mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern

TOWR telah Breakout area Resistance di Rp920 – Rp970 dan tampaknya berhasil membentuk Throwback (dengan bertahan tidak turun di bawah Rp920) sehingga memvalidasi Breakout Resistance tersebut. Penurunan sejak Agustus 2020 terindikasi sebagai bagian dari Bullish Continuation Pattern (Bullish Flag?) sehingga ada indikasi TOWR kembali melanjutkan Rally dari Rp550 – Rp1,150. Tentu TOWR harus Breakout Resistance dari Bullish Pattern tersebut yaitu di Rp1,100. Setelah Breakout Rp1,100 dan mengonfirmasi Bullish Continuation Pattern, menurut The Primary Trader, dalam jangka panjang TOWR berpotensi menuju Rp1,700.

SCMA : Mengakhiri Downtrend Jangka Panjang, Memulai Uptrend Jangka Panjang

The Primary Trader menyukai fakta bahwa SCMA berhasil Breakout Down Trendline SCMA dari sejak 2H14 (!). Down Trendline yang terbentuk pun sangat rapi yang menandakan kuatnya Downtrend. Oleh karena itu, setelah Down Trendline tersebut berhasil di-Breakout di level Rp2,000an pada Desember 2020, The Primary Trader memperkirakan Uptrend yang terbentuk pun seharusnya cukup baik dan berlangsung dalam jangka panjang. The Primary Trader prediksi SCMA berpotensi melanjutkan kenaikan dalam Uptrend menuju Resistance di Rp3,500 – dalam jangka menengah atau panjang.

Trend&Pattern 210118 : IHSG Sudah Mahal ?

Dari sejak awal tahun 2021 IHSG telah naik sebesar 6.59%, IHSG sudah menyentuh Upper Bollinger Band bahkan sempat berada di atas (The Primary Trader menyebutnya Overshoot) dan RSI periode 14 mulai turun di bawah level 70 yang biasanya merupakan sinyal Sell. The Primary Trader ingin menjawab apakah IHSG sudah mahal dan akan mengakhiri Uptrend-nya menggunakan beberapa pendekatan Analisis Teknikal.

Complete Set Bollinger Band

Percentage BB memasuki level 84% setelah beberapa hari sebelumnya berada di atas level 100%. Artinya IHSG memang sempat berada di atas Upper Band dan terindikasi telah Overshoot. Namun perlu diingat bahwa Overshoot mengindikasikan adanya potensi penurunan jangka pendek ditengah Uptrend. Overshoot memprediksi akan ada penurunan lanjutan namun belum tentu merubah tren.

Bandwidth BB sedang naik yang kemungkinan merubah tren penurunan Bandwidth dari sejak akhir November 2020. Artinya ada potensi kenaikan Volatilitas dalam beberapa waktu ke depan. Memang volatilitas telah naik kembali dari sejak awal Januari 2021 setelah di akhir Desember 2020 cenderung Flat. The Primary Trader melihat Investor dan Trader mulai kembali aktif berinvestasi saham.

Dengan melihat Middle Band Direction yang masih positif (meski ada kecenderungan tren turun), The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan mempertahankan Uptrend meskipun IHSG dapat turun mendekati 6,169 (Downside Potential ~3%).

Moving Average Techniques

Menggunakan analisis Moving Average periode 200 (MA200), terlihat bahwa saat ini IHSG ada di atas MA200 sebesar 19.5%. Secara visual, posisi mendekati 20% di atas MA200 cenderung menjadi rata – rata posisi relatif tertinggi IHSG terhadap MA200.

Berdasarkan indikasi posisi relatif terhadap IHSG, The Primary Trader menilai IHSG memang telah mahal. Namun MA200 baru saja secara resmi mengarah ke atas sejak awal Desember 2020 (MA200 Direction) sehingga The Primary Trader menilai Uptrend IHSG dalam jangka panjang (sesuai dengan karakterisik MA200) masih akan bertahan – meskipun IHSG bisa saja turun sebesar sebesar ~20% menuju level MA200 sebagai Support.

Menggunakan MA20 dan MA200 terhadap saham – saham IDX80, The Primary Trader melihat kenaikan IHSG dalam jangka pendek memang terancam tertahan karena semakin sedikit saham IDX80 yang berada di atas MA20-nya. Hal ini ditandai dengan garis biru (jumlah saham IDX80 yang berada di atas MA20) semakin turun dan berpotensi berada di bawah 40. Namun saham – saham IDX80 yang berada di atas MA200 masih tetap stabil di level > 70an sehingga The Primary Trader kembali meyakini potensi Uptrend IHSG belum terancam berakhir.

Sektor dan Saham Pilihan

Dari grafik “Trend and Momentum in Sectors” di atas, The Primary Trader menyukai sektor Retail, Residential, Oil&Gas, Precast, Mineral dan Pharmacy. Hal ini karena sektor tersebut berada di dalam Uptrend (Trend Meter > 50) sementara terindikasi netral (Momentum Meter di rentang 30 – 70).

Saham di sektor Industrial Area, Healthcare, FMCG, Telecom, Textile dan CPO dapat mulai diperhatikan karena sudah Oversold. Saham Construction, Paper dan Tol sebaiknya di waspadai karena Overbought, terlebih lagi sektor Construction yang sudah Overshoot.

Berdasarkan Dandy Rotation di atas (saham – saham IDX80 yang berada dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Buy), The Primary Trader menyukai KLBF, PTPP dan WSBP.

KLBF : Breakout Down Trendline Jangka Panjang

KLBF telah Breakout Resistance dari Down Trendline jangka panjang (dari sejak 2015) di level Rp 1,650an dan bahkan telah membentuk All Time High di Rp1,960. Dengan kondisi ini, The Primary Trader perkirakan KLBF setidaknya masih dapat naik menuju Rp1,960.

PTPP : Breakout Resistance

Walau sudah naik tinggi (dan curam) dari sejak November 2020 sebesar 149% (atau ~3% per hari), PTPP segera menguji Resistance di Rp2,250 yang menjadi level signifikan antara tahun 2017 dan 2019. Setelah Breakout Rp2,250, PTPP berpotensi naik menuju Rp2,700 yang merupakan level Resistance lanjutan.

EDA : January Effect Pada IHSG

January Effect adalah salah satu fenomena Seasonal dimana pasar saham cenderung naik. Pada S&P500 dari tahun 1928 – 2018, January Effect tercatat terjadi 56 kali (dari 91 kali bulan Januari). Bagaimana fenomena January Effect pada IHSG ? The Primary Trader ingin menjawabnya menggunakan model EDA atau Explanatory Data Analysis menggunakan R.

Berikut adalah distribusi frekuensi Return IHSG di bulan Januari :

Sekilas terlihat ada kecenderungan IHSG mencatat Return (akhir bulan Desember ke akhir bulan Januari) yang positif di bulan Januari. Apabila distribusi tersebut di filter sehingga hanya mencatat IHSG pada saat January Effect saja (Return di Januari > 0%) maka distribusi adalah sebagai berikut :

Return IHSG di atas 0% pada bulan Januari dari 1995 – 2020 adalah sebanyak 17 kali. Dengan demikian, dari 26 kali perdagangan IHSG di bulan Januari, terjadi 17 kali January Effect atau sebanyak 65.3%.

Rata – rata Return IHSG di bulan Januari adalah sebesar 0.24% dengan standar deviasi sebesar 1.08%. Deviasi yang cukup lebar ini menandakan volatilitas yang tinggi juga pada bulan Januari. Median Return IHSG di bulan Januari secara umum ada di angka 0.267%.

Apabila dilihat Return IHSG pada January Effect maka Mean Return ada di angka 0.83% dengan standar deviasi 0.69%. Standar deviasi lebih kecil karena nilai Return-nya tidak ada yang negatif (January Effect only). Median Return pada January Effect dari sejak 1995 adalah sebesar 0.6%.

Dengan porsi terjadinya January Effect sebesar 65.3%, Mean sebesar 0.8% dan Median sebesar 0.6%, The Primary Trader meyakini peluang terjadinya January Effect di tahun 2021 cukup besar.

Ada Pengaruh dari Bulan Desember ?

The Primary Trader ingin mencoba melihat apakah pergerakan di Januari dipengaruhi oleh pergerakan di Desember sebelumnya. Menggunakan korelasi antara pergerakan Januari (dari Januari 1995) dengan Desember (dari Desember 1994) diperoleh angka 0.412%. Berikut adalah Scatterplot Return IHSG antara bulan Desember dengan Januari :

Angka korelasi sebesar 0.41% adalah relatif kecil dan dari grafik pun terlihat tidak ada pengaruh yang kuat antara Return bulan Desember dan Januari. Dengan demikian, meskipun IHSG naik sebesar 6.53% di Desember 2020, karena tidak ada korelasi kuat, IHSG tidak berarti akan mencatat January Effect di Januari 2021.