Stock & Sectoral Analysis Menggunakan Klasifikasi IDX Industrial Classification atau IDX-IC (vs Ala The Primary Trader)

Penggunaan Klasifikasi Terbaru IDX yaitu IDX-IC

Sejak tahun 1996, IDX menggunakan Jakarta Stock Industrial Classification (JASICA). Pada tahun 2021, IDX akan menggunakan IDX Industrial Classification atau IDX-IC dimana terdapat 4 tingkatan sebagai berikut :

The Primary Trader melihat IDX-IC lebih baik dibanding JASICA. IDX-IC terlihat lebih mirip dengan Global Industrial Classification Standard (GISC) yang disusun oleh MSCI dan S&P Dow Jones dan digunakan di pada indeks S&P serta MSCI. Dengan demikian, dapat dikatakan IDX-IC hampir menyerupai standar internasional yang dipakai oleh Investor global.

Selama ini The Primary Trader menggunakan klasifikasi pribadi dengan membagi sektor – sektor dari JASICA ke dalam empat golongan (atau Relation) yaitu :

  • Commodity Related (antara lain sektor CPO, Coal dan Mineral)
  • Consumer Related (antara lain sektor FMCF, Retail dan Media)
  • Infrastructure Related (antara lain sektor Construction dan Telecom)
  • Interest Related (antara lain sektor Bank dan Properti)

Seiring dengan perubahan dari JASICA ke IDX-IC, The Primary Trader perlahan akan mengikuti IDX-IC demi keseragaman dengan bursa. Artikel ini mencoba melihat dampak perbedaan antara klasifikasi The Primary Trader dengan IDX-IC.

Sector Quadrant Versi The Primary Trader

Versi yang saat ini digunakan untuk melihat sektor dari saham yang termasuk ke dalam indeks IDX80+SMC-LIQ adalah sebagai berikut :

The Primary Trader menggunakan empat Relation dalam menggolongkan sektor – sektor yang ada. Pada Commodities Relation, ada sektor seperti CPO, Coal dan Mineral.

Sector Quadrant Versi IDX-IC

Sektor dari saham IDX80+SMC-LIQ ke menggunakan IDX-IC adalah sebagai berikut :

Untuk memudahkan perbandingannya, The Primary Trader kembali menggolongkan sektor IDX-IC ke dalam Relation ala The Primary Trader. Terlihat sektor yang masuk ke dalam Commodities Relation antara lain Consumer Non-Cyclicals (CPO), Basic Materials (Mineral) dan Energy (Oil&Gas). Berikut perbandingannya :

Stock Quadrant Versi The Primary Trader

Versi yang saat ini digunakan terhadap saham yang termasuk ke dalam indeks IDX80+SMC-LIQ adalah sebagai berikut :

Karena The Primary Trader membagi ke dalam empat Relation maka kuadran di atas terdiri dari empat kuadran.

Stock Quadrant Versi IDX-IC

IDX-IC memiliki 9 sektor sehingga Stock Quadrant pun memiliki 9 kuadran sebagai berikut :

Pada IDX80+SMC-LIQ, ada beberapa sektor yang memiliki sedikit saham (Industrials dan Technology). Bahkan hanya satu saham di sektor Technology yaitu MTDL sehingga terkesan sia – sia. The Primary Trader akan membiarkan hal ini berharap ke depan akan terjadi pemerataan saham – saham IDX80+SMC-LIQ di setiap sektornya.

Sekilas memang terlihat sulit karena terdapat 9 kuadran. Namun The Primary Trader menyukainya karena penggolongannya lebih sesuai. Dan karena sama dengan IDX, maka ‘gaya bahasa’ yang digunakan dapat lebih universal dan dimengerti oleh Investor lainnya.

Menyambut IDX-IC

The Primary Trader akan mulai menggunakan IDX-IC dalam mempresentasikan Sector dan Stock Quadrant karena selain lebih sesuai, metode IDX-IC yang lebih universal diharapkan dapat lebih mudah dipahami.

Semoga.

Cara Mudah Memilih Saham Dengan Fundamental Yang Baik Ala The Primary Trader

The Primary Trader ingin sharing mengenai cara mudah memilih saham dengan aspek Analisis Fundamental yang baik. Dengan demikian, kita dapat menghemat waktu dan tenaga untuk kemudian lebih fokus dalam melakukan Analisis Teknikal dari saham – saham dengan Fundamental yang baik tersebut.

Silahkan tonton video Youtube berikut ini untuk lebih jelas :

Berikut adalah materi presentasinya :

Rangkuman

The Primary Trader yakin bahwa apabila suatu saham masuk ke Indeks seperti IDX30, LQ45, Kompas100, IDXSMC-Liquid, SRI-Kehati dsb maka saham tersebut sudah dapat dikatakan memiliki aspek Fundamental yang baik. Selain itu, ada alasan penting kenapa saham yang masuk suatu Indeks itu sangat kritikal. Kuncinya adalah calon Pembeli saham tersebut.

Mengambil data dari Infovesta per 30 Desember 2020, ada total Rp 20 triliun Reksa Dana Indeks yang siap membeli apapun saham yang masuk ke dalam suatu indeks. Berikut adalah rangkuman masing – masing indeks :

Dengan demikian, setidaknya ada “Investor” dengan dana sebesar Rp 9.5 triliun yang siap untuk membeli saham apapun yang masuk ke dalam IDX30 atau siap menjual saham apapun yang dikeluarkan dari IDX30. Tentu hal ini sangat perlu menjadi perhatian terutama setiap masa Rebalancing suatu indeks.

Indeks Pilihan The Primary Trader

The Primary Trader ingin mendapatkan volatilitas dan alpha dari pasar serta ingin mendapat excitment pasar. Dengan demikian, 30 saham IDX30 atau 45 saham LQ45 masih terlalu sedikit. Oleh karena itu IDX80 menjadi pilihan The Primary Trader. Selain itu, karena ingin mendapatkan potensi Return yang tinggi maka perlu diambil Risk yang tinggi juga. The Primary Trader memasukkan saham – saham IDXSMC-Liquid ke dalam Watchlist.

Untuk lebih gampangnya, The Primary Trader menggabungkan saham – saham IDX80 dengan IDXSMC-Liquid atau yang The Primary Trader sebut IDX80+SMC-LIQ. Berikut adalah faktanya :

Total ada 84 saham dengan total Market Cap mencapai 69% dari Market Cap IHSG. Total ada 37 Industri yang dapat dianalisis lebih lanjut dari 11 Sektor IDX menggunakan klasifikasi baru yaitu IDX-IC. Banyak saham yang tergolong ke dalam industri Bank (tidak mengherankan). Selain itu banyak juga yang masuk ke dalam industri semen (Construction Materials), Heavy Construction & Civil Engineering yaitu emiten konstruksi serta properti (Real Estate Development & Management).

Melihat sektor bisnisnya menggunakan IDX-IC, sektor yang perlu diperhatikan adalah Basic Materials, Consumer (baik Cyclicals maupun Non-Cyclicals), Financials, Infrastructures, Energy dan Properties & Real Estate. Sektor seperti Technology dan Transportation & Logistic hanya terdiri dari 2 saham sehingga relatif dapat dihiraukan.

The Primary Trader sangat menyukai klasifikasi IDX-IC yang lebih pas dan relatif tepat menggolongkan suatu emiten dengan peers-nya. Kudos to IDX!

Semoga terinspirasi.

Pentingnya Trading System Dan Trading System Ala The Primary Trader

Sebagai seorang profesional yang pernah memberikan analisis dan nasihat investasi serta saat ini melakukan investasi atas nama perusahaan, The Primary Trader sangat bergantung dengan indikator Stochastic Oscillator dan Bollinger Band. Dalam hal memberikan Stock Picks kepada nasabah ritel yang baru mulai berinvestasi maupun nasabah institusi yang mengelola dana triliunan Rupiah sampai memberikan usulan investasi kepada Komite Investasi di perusahaan tempat The Primary Trader bekerja, lagi – lagi Stochastic Oscillator dan Bollinger Band memiliki porsi terbesar dalam prosesnya.

Stochastic Oscillator dan Bollinger Band adalah indikator yang sangat baik bagi pengguna yang memahaminya. Namun tentu kedua indikator tersebut bukanlah indikator yang sempurna dan ada kekurangannya. Stochastic Oscillator sering memberikan sinyal palsu ketika Market sedang Strong Trend sementara Bollinger Band sering telah memberikan sinyal Buy atau Sell. Pada akhirnya tidak ada indikator yang sempurna.

The Primary Trader ingin kembali meyakinkan bahwa semua indikator Analisis Teknikal adalah sebuah Tools. Seperti sebuah alat pada umumnya, kemampuan pengguna menjadi hal yang paling utama. Oleh karena itu, The Primary Trader menerima kekurangan Stochastic Oscillator dan Bollinger Band dan mencoba memahami karakteristik kedua indikator tersebut.

Backtest Your Trading System

Untuk meyakinkan bahwa indikator yang kita gunakan tersebut dapat memberikan keuntungan, salah satu caranya adalah dengan mengujinya menggunakan data historis atau Backtesting. The Primary Trader menggunakan Stochasti Oscillator dengan parameter 5 period dan 2 smoothing period. Sinyal Buy muncul ketika %K berpotongan dengan %D dari bawah ke atas (Bullish Crossover) sementara Sinyal Sell muncul ketika %K berpotongan dengan %D dari atas ke bawah (Bearish Crossover).

Bila digunakan pada IHSG sejak awal (1994) maka berikut hasil Backtest-nya :

Dari sejak bulan Juli 1994 sampai Februari 2021 lalu, total ada 1,300 transaksi dengan rata – rata Holding Period selama 3-4 hari bursa. Dari 1,300an transaksi tersebut, 620 transaksi mencatat Capital Gain sementara 687 transaksi mencatat Capital Loss. Rata – rata Capital Gain adalah sebesar 2.3% sementara rata – rata Capital Loss adalah sebesar -1%. Semua transaksi adalah Long Only tanpa Short Sell. Namun perlu dicatat bahwa transaksi tersebut dianggap tanpa Fee.

Berikut adalah Backtesting yang sama dengan Fee sebesar 0.19% :

Pada akhirnya, total Profit berkurang drastis dari 70,570% menjadi hanya 392%. Transaksi dengan Capital Gain berkurang dari 620 transaksi menjadi 521 transaksi karena setelah dikurangi Fee maka transaksi tersebut mencatat Capital Loss. Begitupun Capital Loss yang bertambah dari 687 transaksi menjadi 786 transaksi.

The Primary Trader pun tidak menyukai Holding Period yang relatif terlalu singkat yaitu 3-4 hari bursa. Untuk itu, tidak semua sinyal Buy dari Bullish Crossover Stochastic Oscillator perlu diikuti. Salah satu cara untuk mengurangi sinyal Buy adalah dengan melakukan Filtering. Inilah kenapa The Primary Trader menggunakan Bollinger Band. Sebagai catatan, Bollinger Band terdiri dari tiga garis dimana salah satunya adalah Middle Band yang tidak lain adalah Moving Average periode 20.

The Primary Trader hanya akan melakukan Buy apabila muncul sinyal Buy dari Stochastic Oscillator dan IHSG berada di atas Moving Average 20 tersebut. The Primary Trader akan menjual apabila ada sinyal Sell atau bila IHSG turun di bawah MA20. Berikut adalah hasil Backtesting-nya :

Menggunakan prinsip Filtering, terlihat Total Return dengan Filtering (73.6%) lebih buruk daripada tanpa Filtering (392%). Namun perlu diperhatikan lebih seksama lagi dalam menilai apakah lebih baik tanpa Filtering atau dengan Filtering. Berikut adalah perbandingannya :

Tanpa Filtering

Dengan Filtering

Backtesting dengan Filtering mencatat (baca : mengharuskan) 781 transaksi sementara tanpa Filtering berarti kita harus melakukan transaksi sebanyak 1,307 transaksi. Trading System dengan Filtering hanya mencatat Capital Gain sebesar 1.84% namun Trading System tanpa Filtering mencatat rata – rata Capital Gain sebesar 2.32%. Namun yang kembali menjadi masalah adalah rata – rata jumlah Capital Loss pada Trading System tanpa Filtering adalah sebesar -1,263 (USD) sementara rata – rata Capital Loss dengan Filtering adalah sebesar -404 (USD).

Sesuaikan Dengan Diri Kita

Bagi Trader yang sangat aktif tentu lebih tertarik dengan Trading System tanpa Filtering karena mencatat Total Return yang lebih banyak dan jumlah transaksi yang lebih sering. Namun The Primary Trader merasa tidak cocok dengan Very Short Term dan Active Trading tersebut. Oleh karena itu, The Primary Trader lebih menyukai Trading System dengan Filtering yang sesuai.

Dengan sedikit perubahan, berikut adalah Trading System dengan Filtering ala The Primary Trader :

Meskipun total Return relatif sama dengan Trading System ber-Filter yaitu sebesar 73%an namun Risk Adjusted Return-nya (12.2%) jauh lebih baik dari Trading System ber-Filter (8%) bahkan menyamai Trading System tanpa Filter yang super aktif (12.3%). Trading System The Primary Trader hanya perlu bertransaksi 451 kali namun rata – rata Capital Gain dengan Capital Loss-nya (Avg. Profit / Loss %) hampir sama seperti Trading System tanpa Filter yaitu sebesar 0.15% vs 0.16% (Trading System ber-Filter : 0.09%).

The Primary Trader lebih memilih transaksi yang terbaik dalam kondisi yang baik tanpa perlu meningkatkan Risiko yang tidak perlu. Salah satu ilmu yang masih The Primary Trader ingat adalah :

The goal of a successful trader is to make the best trades. Money is secondary.

Alexander Elder

Kenali Diri Kita Lalu Pilih Trading System Yang Sesuai

The Primary Trader menghabiskan banyak waktu untuk mengenali diri sendiri dan menghabiskan waktu lebih banyak lagi untuk mencari Trading System. Salah satu alasan dibuat website dan tulisan ini adalah untuk memberi inspirasi dan membantu Investor dan Trader untuk mencari Trading System tersebut. Pada akhirnya, masing – masing kita harus menginvestasikan waktu dan uang untuk mencari cara agar sukses berinvestasi di pasar modal.

Silahkan tunggu sharing edukasi dari The Primary Trader lainnya dan semoga terinspirasi.

Cara Paling Mudah Dan Paling Baik Untuk Memilih Saham Yang Baik

The Primary Trader sering mendengar saran untuk memilih saham berdasarkan aspek – aspek yang masuk ke dalam koridor Analisis Fundamental. Tentu saran Warren Buffet dan Lo Kheng Hong (Warren Buffet-nya Indonesia) yang menjadi acuannya. The Primary Trader pun perlahan mengaplikasikan nasihat tersebut yang pada intinya memilih saham terbaik secara bisnis maupun valuasi dan menyimpannya dalam waktu yang lama. Meski saran tersebut nampaknya adalah saran terbaik namun The Primary Trader yakin bahwa saran tersebut tidak untuk semua orang.

Dalam hal memahami bisnis saja, tidak semua orang dapat memahami dengan komprehensif bisnis suatu emiten. Tidak terbayang seorang Ibu Rumah Tangga atau siswa SMA memahami laporan keuangan lalu menilai valuasi harga saham. Meskipun relatif mudah dan dapat dilakukan dalam waktu singkat, pada akhirnya masing – masing Investor / Trader akan berhadapan dengan konsensus pasar yaitu : “Kalau Saham ABCD Itu Bagus dan Murah Menurut Saya, Apakah Saham ABCD juga Bagus dan Murah Menurut Pasar?”

Pada akhirnya, Investor / Trader harus berhadapan dengan Fairness serta Keterbukaan (Full Disclosure) dari Emiten untuk melakukan Analisis Fundamental. Setelah itu, Investor / Trader akan berhadapan dengan Market Consensus untuk melihat apakah kebanyakan Investor / Trader juga melihat Emiten tersebut sebagai suatu investasi yang menarik. Bila Investor / Trader lain juga melihat Emiten tersebut sebagai suatu investasi yang menarik maka harga saham-nya akan naik, terlepas dari apakah aspek Fundamental-nya juga baik atau tidak.

The Primary Trader yang cenderung merupakan seorang Trader dibanding Investor melihat bahwa yang terpenting adalah Market Consensus. Sebagai satu pihak kecil ditengah struktur pasar modal, tentu kita juga harus melihat aktifitas Investor / Trader lain. Oleh karena itu, The Primary Trader meyakini bahwa tidaklah cukup bagi seorang Investor / Trader yang berpengalaman (terlebih lagi yang belum berpengalaman) untuk melakukan analisis sendiri dalam menentukan saham pilihan.

Dari pengalaman The Primary Trader sebagai bagian dari tim Research Analyst di sekuritas, banyak Analis Fundamental seringkali menjadikan Bloomberg Consensus Estimate sebagai acuan. Artinya, satu orang Analis Fundamental akan melihat target price dari Analis Fundamental lain berdasarkan data yang di-compile oleh Bloomberg. Nasihat bijak dari analis yang berpengalaman adalah sebagai berikut :”Kalau target price atau estimasi laporan keuangan kita jauh dari Consensus Bloomberg, kemungkinan besar ada yang salah dari model kita.”

Hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya Consensus dan bahkan Consensus (suara banyak orang) dapat dianggap sebagai suatu kebenaran di pasar modal. Perlu dicatat bahwa kebenaran di dunia ini mungkin relatif namun di pasar modal, kebenaran berarti adalah harga saham Naik atau Turun. Jargon di dunia investasi adalah “Market Is Always Right”.

Konsensus Daftar Saham – Saham Terbaik

The Primary Trader memposting Instagram untuk membahas cara mudah memilih saham terbaik sebagai berikut :

Dari > 700 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), The Primary Trader yakin tidak semua saham layak dipilih. Meskipun mungkin secara aspek Analisis Fundamental semua saham tersebut bagus (walau rasanya mustahil), tidak semua saham di Bursa Efek Indonesia memenuhi Likuiditas yang cukup untuk pantas di-Trading-kan. Dengan demikian, jelas kita harus lebih berhati – hati lagi dalam memilih.

Menurut The Primary Trader, cara termudah dan terbaik untuk memilih saham yang baik adalah dengan memilih saham yang masuk ke dalam indeks tertentu. Sebagai informasi, The Primary Trader banyak menggunakan materi dari BEI (Stock Index Handbook) yang sudah di upload di Slideshare berikut :

Ebook dapat di download di website BEI.

Menurut BEI, manfaat indeks antara lain 1) Mengukur Sentimen Pasar, 2) Dijadikan Investasi Pasif, 3) Benchmark Investasi Aktif, 4) Proksi Mengukur dan Membuat Return dan 5) Proksi untuk Alokasi Aset. The Primary Trader ingin mengelaborasi manfaat indeks nomor 2 dan 3 dan menyimpulkan bahwa memilih saham yang masuk ke dalam indeks adalah cara terbaik dalam melakukan seleksi saham.

Berdasarkan laporan tahun 2019, BEI memiliki indeks sebagai berikut :

Dari klasifikasi indeks di atas, ada beberapa jenis indeks yaitu Headline, Sector, Thematic dan Factor. Jenis indeks tersebut adalah penggolongan secara garis besar. Namun bila dilihat lebih lanjut, setidaknya ada dua penggolongan yang utama yaitu : 1) Likuiditas dan 2) Analisis Fundamental.

Hampir semua saham yang masuk ke dalam indeks (terlebih lagi apabila tujuan indeks tersebut adalah memilih saham yang “cair”) memiliki likuiditas yang tinggi. Dengan demikian, sebenarnya sudah cukup untuk memilih saham – saham yang masuk ke dalam indeks tertentu. The Primary Trader meyakini sebagus apapun bisnis emiten atau semenarik apapun valuasi saham tersebut, semuanya akan percuma bila saham tersebut tidak memiliki likuiditas yang cukup. Artinya adalah akan percuma bila Investor / Trader sulit membeli atau menjual saham tersebut. Dengan demikian, memilih saham yang masuk ke dalam indeks berarti kita sudah melakukan seleksi hal paling krusial dalam investasi dan trading yaitu likuiditas.

Fundamental Sesuai Konsensus Atau Sebaliknya

Dalam hal menentukan saham dengan aspek fundamental yang bagus atau tidak, Investor atau Trader dapat memilih mana saham yang baik. Namun apabila Investor atau Trader lain (konsensus) tidak setuju – dan tidak membelinya maka tentu saham tersebut tidak naik. Hal inilah yang menurut The Primary Trader akan kurang optimal apabila opini kita tidak sama dengan opini pasar (Market Consensus). Salah satu cara untuk optimal yaitu memilih saham yang “disukai” pasar adalah dengan memilih saham – saham yang ada di indeks.

Kenapa ? Jawabannya ada di tujuan indeks itu sendiri.

BEI ingin agar indeks yang sudah disediakan dapat dijadikan produk investasi pasif dan benchmark (acuan) investasi aktif. Artinya adalah BEI ingin ada Fund Manager yang membuat Reksa Dana yang kinerjanya mengacu pada indeks tersebut. Arti yang lebih jelasnya lagi adalah BEI ingin agar Fund Manager memilih (alias membeli) saham – saham yang ada di dalam indeks tersebut untuk masuk ke Reksa Dana yang kinerjanya mengacu pada indeks tersebut.

Dengan demikian, suka atau tidak suka, bagus atau tidak bagus, hampir semua saham – saham yang ada di indeks tersebut akan dibeli oleh Fund Manager. Dengan demikian lagi, karena dana yang dikelola para Fund Manager sangat besar, maka The Primary Trader menganggap Fund Manager sebagai Market Consensus yang mudah dibaca (!).

Selain dari likuiditas, pembuat indeks seperti BEI, media massa Bisnis Indonesia dan Investor, MNC Group dan Pefindo pun menyusun suatu indeks dimana faktor Analisis Fundamental sebagai salah satu faktor utama dalam seleksi saham. Diambil dari dokumen di atas, berikut adalah beberapa deskripsi dari MNC36, Investor33, Pefindo25 dan Pefindo I-Grade :

Salah satu faktor dari keempat indeks tersebut adalah berdasarkan aspek fundamental yaitu rasio dan kinerja keuangan serta peringkat dari obligasi emiten. Dengan demikian, saham yang masuk ke dalam indeks (misalnya) Investor33 berarti sudah dapat dianggap bagus secara fundamental. Namun seperti tadi pemikiran The Primary Trader, saham yang dianggap bagus oleh Majalah Investor (pembuat indeks Investor33) bukan berarti dianggap bagus dan dibeli juga oleh Investor lain. Disinilah pentingnya dan perannya Fund Manager.

Fund Manager yang mengelola Passive Fund seperti Reksa Dana Indeks atau ETF Indeks adalah pihak yang “membeli” saham – saham yang masuk ke dalam indeks tertentu tersebut. Dengan kata lain, apabila Reksa Dana Indeks tersebut mengacu kepada indeks Investor33 maka Fund Manager akan membeli semua atau sebagian besar saham- saham yang ada di Investor33.

Berdasarkan data OJK, pada Desember 2020, ada sedikitnya Rp 20 triliun Reksa Dana yang telah membeli saham – saham sesuai indeks tertentu (antara lain IDX30, LQ45, MNC36, Bisnis27, SMInfra18, SRI-Kehati, JII, Pefindo I-Grade, IDX Value30 dan IDX High Dividend 20). Dengan demikian tentunya saham – saham yang masuk ke dalam indeks – indeks tersebut dapat dikatakan baik secara fundamental dan dianggap baik oleh pasar (karena dibeli oleh Fund Manager yang mengelola Reksa Dana dan ETF tersebut).

Kesimpulan

The Primary Trader akan selalu menggunakan saham – saham yang telah masuk ke dalam suatu indeks dalam rangka membuat Stock Watchlist. Saat ini The Primary Trader telah memfokuskan Stock Watchlist pada saham IDX80. Namun seiring dengan semakin banyak Reksa Dana atau ETF yang mengacu kepada indeks tertentu, The Primary Trader akan menambah Stock Watchlist-nya tidak hanya terhadap saham IDX80.

The Primary Trader memaklumi apabila Investor atau Trader, terutama pemula, yang ingin melakukan analisis terhadap semua saham BEI atau diluar indeks – indeks tertentu. Namun karena Learning Curve-nya yang panjang, sebaiknya waktu untuk membuat Stock Watchlist atau saham – saham incaran dikurangi dan tenaga untuk melakukan komprehensif analisis (terutama bila menggunakan Analisis Fundamental) ditambah.

Bagi para Trader yang seringkali memiliki appetite lebih terhadap Risiko, pada saham – saham yang masuk ke dalam suatu indeks, jangan ragu untuk membeli dalam jumlah banyak apabila kondisi Analisis Teknikal-nya mendukung. The Primary Trader tidak akan ragu untuk merekomendasikan suatu saham IDX80 (misalnya) ketika mendapat sinyal Alert Buy dalam kondisi New Uptrend.

Akhir kata, The Primary Trader ingin berpesan untuk menghabiskan tenaga pada hal yang kritikal dan penting.

Happy Hunting !

Bukti Validitas IHSG Breakout ~5,500 Sebagai Awal Uptrend Jangka Panjang

Resistance di ~5,500

IHSG telah berhasil Breakout Resistance penting di 5,550. Seperti yang terlihat pada grafik di bawah, level ~5,500 adalah level signifikan sejak tahun 2015 karena beberapa kali menjadi Resistance dan Support. Breakout level 5,500 seperti saat ini seharusnya memberikan indikasi yang signifikan positif pada IHSG.

IHSG berhasil Breakout ~5,550 pada pertengahan November 2020.Menjelang akhir November 2020, terjadi penurunan drastis (hampir -3% dalam sehari) yang menyebabkan IHSG dari 5,600 kembali menyentuh level 5,550. Belakangan diketahui bahwa penurunan tersebut dikarenakan Hacking yang membuat berita negatif signifikan di September 2020 kembali muncul sebagai berita terbaru.

Breakout dan Throwback

The Primary Trader melihat penurunan tersebut sebagai bagian dari Throwback atau penurunan paska Breakout Resistance. Level 5,550 yang sebelumnya menjadi Resistance, pada saat Throwback menjadi Support. Dan karena IHSG tetap bertahan di atas 5,550 maka dapat dikatakan Support tersebut terbukti kuat menahan IHSG sehingga Throwback dapat dikatakan Valid.

The Primary Trader meyakini Throwback menunjukkan Validitas Breakout. Dengan demikian, IHSG telah Breakout dengan meyakinkan sehingga kesimpulan utamanya adalah bahwa IHSG memasuki fase Uptrend jangka menengah dan panjang. The Primary Trader cenderung melihat sebagai Breakout 5,550 adalah awal dari Uptrend jangka panjang IHSG untuk membuat New All Time High.

Validitas Breakout

Validitas Breakout dapat dilihat dari pergerakan OHLC serta Volume atau Value pada saat Breakout. Menggunakan data Laporan Statistik mingguan dari IDX, terlihat bahwa pada tanggal 10, 11 dan 12 November 2020, Value transaksi IHSG sangat besar (Rp15 – 16 triliun per hari). Frekuensinya pun mencapai 1 juta transaksi dari normal sekitar 800 – 900 ribu transaksi. Hal ini menambah indikasi Validitas Breakout.

Karena IHSG sendiri adalah Indeks yang terdiri dari konstituennya maka sudah seharusnya konstituen IHSG pun naik – terutama saat Breakout. Berikut adalah Return saham – saham Biggest Cap IHSG dari November 2020 :

Terlihat bahwa pada tanggal 10 – 12 November, saham ASII, TLKM, BBRI menjadi pengangkat utama IHSG. Saham – saham lain pun telah sebelumnya mendukung seperti BBCA dan BMRI. Dengan adanya kenaikan Big Cap tersebut tentu menandakan kenaikan IHSG disebabkanya oleh adanya Big Money yang masuk. Dan The Primary Trader meyakini hal tersebut memperkuat bukti bahwa IHSG telah secara Valid Breakout Resistance ~5,500 dan memulai Uptrend jangka panjang untuk membuat New All Time High.

Semoga.