Trend&Pattern 210607 : Mencoba Breakout Down Trendline (Dan Yang Sudah Breakout Down Trendline)

The Primary Trader melihat beberapa saham berada dalam fase Continuing Uptrend atau Technical Correction. Meski tidak terlihat pembentukan pola Bullish Continuation, ada indikasi saham – saham tersebut masih dalam kondisi Uptrend dan akan kembali Uptrend.

The Primary Trader membagi ke dalam dua golongan besar yaitu :

  • Testing Down Trendline
  • Breaking-Out Down Trendline

Saham yang dibahas adalah konstituen dari IDX80 dan SMC-Liquid. Seluruh saham tersebut pun berada dalam kondisi Uptrend dan Outperform Trend.

Testing Down Trendline

Berikut adalah saham yang sedang menguji Down Trendline (sebagai Resistance) dan menurut The Primary Trader memiliki peluang untuk Breakout dan melanjutkan Uptrend :

BBNI : Menuju Resistance Down Trendline di Rp6,000an

SMGR : Menguji Resistance Down Trendline di Rp10,500an

SSIA : Menguji Resistance Down Trendline di Rp480an

BMTR : Menguji Resistance Down Trendline di Rp300an

TLKM : Menguji Resistance Down Trendline di Rp3,500an Sebagai Bagian Dari Bullish Continuation

The Primary Trader melihat TLKM berpeluang menarik dan menjadi salah satu indikasi positif untuk IHSG karena sebagai Big Caps BUMN. Setelah Breakout Down Trendline di Rp3,500an dan memvalidasi Bullish Continuation, TLKM berpeluang Uptrend menuju Rp4,000 dan Rp4,600 dalam jangka menengah dan jangka panjang.

Breaking-Out Down Trendline

The Primary Trader melihat beberapa saham yang telah Breakout Down Trendline dan masih mempertahankan Uptrend jangka menengah atau panjangnya. Dengan demikian, setelah beberapa pergerakan untuk menguji validitas Breakout, saham berikut sangat mungkin kembali Uptrend :

MNCN : Breakout Rp980 Untuk Menuju Rp1,300an

BMRI : Breakout Rp6,000 Untuk Menuju Rp7,500

SCMA : Breakout Rp1,400 Untuk Menuju Rp2,500an

The Primary Trader menyukai SCMA karena selain Breakout Down Trendline dari sejak awal tahun 2021, SCMA pun bertahan di Fibonacci Retracement 61.8% yang berarti Uptrend jangka panjang SCMA dari Maret 2020 (dari Rp600) masih bertahan. Ada peluang yang menarik bagi SCMA untuk kembali menuju Rp2,500 serta Breakout level tersebut.

ACES : Breakout Rp1,490 Untuk Menuju Rp1,800

Summary

Dari saham – saham IDX80+SMC-LIQ, The Primary Trader memilih beberapa saham dalam kondisi Uptrend dan Outperform Trend lalu membagi kembali ke dalam dua bagian yaitu :

  • Testing Down Trendline : BBNI, SMGR, SSIA, BMTR dan TLKM
  • Breaking-Out Down Trendline : MNCN, BMRI, SCMA dan ACES

Di antara ke-8 saham tersebut, The Primary Trader menyukai TLKM dan SCMA.

Semoga terinspirasi.

Yield SUN10Yr Bersiap Turun

view of city at airport

Current Account Deficit (CAD) 3Q19 Turun, Bersiap Capital Inflow

Bank Indonesia melaporkan Defisit Neraca Transaksi Berjalan (Current Account Deficit atau CAD) di 3Q19 sebesar USD7.7 miliar atau 2.7% dari GDP. CAD 3Q19 membaik karena lebih kecil dari CAD 2Q19 sebesar 2.93% dari GDP.

Tampaknya perbaikan CAD 3Q19 lebih disebabkan karena ada investasi masuk ke Corporate Bond (sebagai Portfolio Investment) ke Pertamina dan PLN yang baru saja mengeluarkan Global Corporate Bond. Selain itu, tidak adanya pembayaran Dividend ke Investor luar negeri seperti di 2Q19 pun menjaga CAD.

The Primary Trader menilai dampak dari perbaikan CAD di 3Q19 akan membuat Investor Asing semakin tertarik berinvestasi di Indonesia. Investor saat ini sedang berharap akan ada Upgrade Rating bagi Indonesia dari peringkat efek, setidaknya dari Fitch atau Moody’s. Bahkan tidak tertutup kemungkinan S&P kembali menaikkan rating seiring dengan harapan tim ekonomi Jokowi di periode 2 (yang ditopang oleh Sri Mulyani yang kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan).

Rupiah Dalam Tren Menguat

Penguatan Rupiah dengan potensi menuju Rp13,600 mengindikasikan Investor Asing memandang Indonesia dengan positif. Rupiah sendiri sedang bersiap Breakdown Support di Rp13,900 untuk terus menguat dengan potensi menuju Rp13,600. Meski demikian, kemungkinan Rupiah dijaga oleh BI di kisaran Rp14,000an mungkin akan membatalkan penguatan menuju Rp13,600 tersebut. Setidaknya untuk Rupiah, selama volatilitas menurun (stabil) maka hal tersebut sudah menjadi katalis dan sentimen positif. Rupiah sendiri mulai less-volatile sejak Jun’19.

Ikuti live chart di sini

Begitupun dengan Yield Obligasi Negara

Yield SUN10Yr yang mewakili pasar obligasi di Indonesia memastikan dalam Downtrend sejak awal Okt’19 dengan turun di bawah 7.2%. Saat ini Yield sedang dalam Support di 7% namun setelah Breakdown 7.2% lalu, Yield sedang dalam Downtrend menuju setidaknya 6.5%.

Yield masih mempertahankan Downtrend dari sejak 9% di bulan Okt’18. Perlu diingat bahwa penurunan yield berarti kenaikan harga obligasi. Tentunya hal ini sebagai akibat dari minat dari Investor terutama Investor Asing (bila dihubungkan dengan penguatan Rupiah).

Ikuti live chart di sini 

Strategi The Primary Trader

Membaiknya data makro ekonomi seperti CAD tentu akan langsung berpengaruh dengan pasar obligasi karena berkaitan dengan makro suatu negara. Meski demikian, karena ada pengaruh dari penguatan Rupiah, tentu ada beberapa sektor saham yang dapat menjadi pilihan.

The Primary Trader menyukai sektor yang banyak melakukan impor seperti Retail (MAPI dan ACES) serta KLBF (Healthcare dan atau Pharmacy).

Create your website with WordPress.com
Get started