Trend&Pattern 210118 : IHSG Sudah Mahal ?

Dari sejak awal tahun 2021 IHSG telah naik sebesar 6.59%, IHSG sudah menyentuh Upper Bollinger Band bahkan sempat berada di atas (The Primary Trader menyebutnya Overshoot) dan RSI periode 14 mulai turun di bawah level 70 yang biasanya merupakan sinyal Sell. The Primary Trader ingin menjawab apakah IHSG sudah mahal dan akan mengakhiri Uptrend-nya menggunakan beberapa pendekatan Analisis Teknikal.

Complete Set Bollinger Band

Percentage BB memasuki level 84% setelah beberapa hari sebelumnya berada di atas level 100%. Artinya IHSG memang sempat berada di atas Upper Band dan terindikasi telah Overshoot. Namun perlu diingat bahwa Overshoot mengindikasikan adanya potensi penurunan jangka pendek ditengah Uptrend. Overshoot memprediksi akan ada penurunan lanjutan namun belum tentu merubah tren.

Bandwidth BB sedang naik yang kemungkinan merubah tren penurunan Bandwidth dari sejak akhir November 2020. Artinya ada potensi kenaikan Volatilitas dalam beberapa waktu ke depan. Memang volatilitas telah naik kembali dari sejak awal Januari 2021 setelah di akhir Desember 2020 cenderung Flat. The Primary Trader melihat Investor dan Trader mulai kembali aktif berinvestasi saham.

Dengan melihat Middle Band Direction yang masih positif (meski ada kecenderungan tren turun), The Primary Trader perkirakan IHSG masih akan mempertahankan Uptrend meskipun IHSG dapat turun mendekati 6,169 (Downside Potential ~3%).

Moving Average Techniques

Menggunakan analisis Moving Average periode 200 (MA200), terlihat bahwa saat ini IHSG ada di atas MA200 sebesar 19.5%. Secara visual, posisi mendekati 20% di atas MA200 cenderung menjadi rata – rata posisi relatif tertinggi IHSG terhadap MA200.

Berdasarkan indikasi posisi relatif terhadap IHSG, The Primary Trader menilai IHSG memang telah mahal. Namun MA200 baru saja secara resmi mengarah ke atas sejak awal Desember 2020 (MA200 Direction) sehingga The Primary Trader menilai Uptrend IHSG dalam jangka panjang (sesuai dengan karakterisik MA200) masih akan bertahan – meskipun IHSG bisa saja turun sebesar sebesar ~20% menuju level MA200 sebagai Support.

Menggunakan MA20 dan MA200 terhadap saham – saham IDX80, The Primary Trader melihat kenaikan IHSG dalam jangka pendek memang terancam tertahan karena semakin sedikit saham IDX80 yang berada di atas MA20-nya. Hal ini ditandai dengan garis biru (jumlah saham IDX80 yang berada di atas MA20) semakin turun dan berpotensi berada di bawah 40. Namun saham – saham IDX80 yang berada di atas MA200 masih tetap stabil di level > 70an sehingga The Primary Trader kembali meyakini potensi Uptrend IHSG belum terancam berakhir.

Sektor dan Saham Pilihan

Dari grafik “Trend and Momentum in Sectors” di atas, The Primary Trader menyukai sektor Retail, Residential, Oil&Gas, Precast, Mineral dan Pharmacy. Hal ini karena sektor tersebut berada di dalam Uptrend (Trend Meter > 50) sementara terindikasi netral (Momentum Meter di rentang 30 – 70).

Saham di sektor Industrial Area, Healthcare, FMCG, Telecom, Textile dan CPO dapat mulai diperhatikan karena sudah Oversold. Saham Construction, Paper dan Tol sebaiknya di waspadai karena Overbought, terlebih lagi sektor Construction yang sudah Overshoot.

Berdasarkan Dandy Rotation di atas (saham – saham IDX80 yang berada dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Buy), The Primary Trader menyukai KLBF, PTPP dan WSBP.

KLBF : Breakout Down Trendline Jangka Panjang

KLBF telah Breakout Resistance dari Down Trendline jangka panjang (dari sejak 2015) di level Rp 1,650an dan bahkan telah membentuk All Time High di Rp1,960. Dengan kondisi ini, The Primary Trader perkirakan KLBF setidaknya masih dapat naik menuju Rp1,960.

PTPP : Breakout Resistance

Walau sudah naik tinggi (dan curam) dari sejak November 2020 sebesar 149% (atau ~3% per hari), PTPP segera menguji Resistance di Rp2,250 yang menjadi level signifikan antara tahun 2017 dan 2019. Setelah Breakout Rp2,250, PTPP berpotensi naik menuju Rp2,700 yang merupakan level Resistance lanjutan.

PTPP : Emiten Konstruksi Sehat

Pemain Konstruksi BUMN Yang Relatif Lebih Aman

Kinerja PTPP di 2019 mungkin akan sedikit tertekan namun PTPP seharusnya bisa mencatat kinerja yang lebih baik di tahun 2020. PTPP menargetkan kontrak baru di tahun 2020 sebesar Rp 40.5 triliun, tumbuh 21% dari pencapaian tahun 2019 sebesar Rp 33.5 triliun. Angka Rp33.5 triliun di 9M19 adalah 74% dari target Rp45 triliun. Angka ini tampaknya relatif achieve-able. Perlu dicatat juga bahwa PTPP (dan WIKA) memiliki proyek multi-years yang cukup besar sehingga di tahun berjalan, PTPP masih mengerjakan proyek tahun sebelumnya dan berpotensi mencatat bagian pendapatan dari penyelesaian proyek tersebut di tahun berjalan. Hal ini membuat pendapatan dan laba PTPP lebih mudah dan pasti.

Untuk menjaga marjin keuntungan dimana sejak tahun 2017 relatif turun, PTPP berencana mendivestasi 4 proyek seperti kepemilikan ruas tol Pandaan – Malang dan ruas tol Cisumdawu. Divestasi ini dapat meningkatkan laba bersih sebesar 33% YoY.

Meski sebagai perusahaan Konstruksi BUMN, proyek PTPP yang berasal dari pemerintah (tahun 2018) sangatlah kecil. Investor tampaknya mengkhawatirkan sentimen bahwa pelunasan proyek pemerintah cenderung lambat sehingga menimbulkan biaya tambahan. Oleh karena itu, seringkali PTPP dianggap sebagai emiten Konstruksi BUMN yang paling sehat.

Potensi Sektor Infrastruktur

Presiden Jokowi masih menggenjot pembangunan infrastruktur di periode ke-2 dengan proyek raksasa seperti Tol Trans Sumatera, Tol Trans Kalimantan dan (tentu) Ibukota Baru. Pada periode pertama (2014 – 2019), pertumbuhan nilai proyek Sektor Infrastruktur adalah sebesar 30% per tahun (CAGR). Diperkirakan pada periode kedua (2019 – 2024), ada potensi pertumbuhan 11% per tahun (CAGR). Cukup tinggi karena masih Double Digit.

Namun menurut The Primary Trader, yang terpenting adalah bahwa kali ini, pemerintah akan banyak menggandeng pihak swasta untuk berinvestasi pada proyek pembangunan infrastruktur. Salah satu yang sedang ramai adalah Softbank (Investor Grab dan Tokopedia) yang diberikan kesempatan untuk ikut membangun Ibukota yang baru nanti. Hal ini tentu membuat emiten Konstruksi relatif lebih ‘bebas’ menentukan kapasitasnya untuk berkontribusi dalam proyek tersebut. Dengan demikian, selain masih tersedia kesempatan untuk tumbuh, kali ini emiten pun berkesempatan untuk tumbuh sesuai dengan kemampuan.

Mengakhiri Downtrend

The Primary Trader melihat PTPP dalam proses membentuk Double Bottom. Untuk itu, PTPP perlu bertahan di Support penting di Rp1,300 yang telah menahan PTPP di Oktober 2018. PTPP masih harus Breakout Rp1,680 untuk mengonfirmasi pola Bullish Reversal untuk memperbesar potensi mengawali Uptrend. Dengan bertahan di Rp1,300, The Primary Trader mulai meyakini potensi Uptrend PTPP.

PTPP saat ini berada di bawah Cloud dari Ichimoku Kinko Hyo namun perlu diperhatikan bahwa masih ada Green Cloud yang menandakan potensi awal Uptrend (setelah muncul dominasi Red Cloud dari sejak September 2019). The Primary Trader melihat ancaman karena mulai ada bibit Red Cloud. Tentunya dengan PTPP bertahan di atas Rp1,300, Red Cloud seharusnya tidak terbentuk.

The Primary Trader pun melihat berdasarkan posisi relatif PTPP saat ini dengan MA200 atau rata – rata setahun terakhir. PTPP relatif lebih dekat dengan MA200 dibanding pada posisi terendah dalam 2 tahun terakhir yaitu di Rp1,300 atau pada Oktober 2018. Berdasarkan Distance Close to MA200, PTPP kali ini berada -32% di bawah MA200 sementara pada Oktober 2018, PTPP mencapai 74% di bawah MA200. Posisi yang lebih kecil tersebut menandakan Downtrend PTPP mulai melemah.

PTPP pun dapat dikatakan sudah murah bila dilihat dari PE TTM (4 kuartal terakhir) di -1 SD dalam 5 tahun terakhir. Membeli PTPP saat ini berarti membeli karena Cheap Valuation dan potensi Bottoming atau akhir dari Downtrend. Perlu kesabaran namun ada harapan dan potensi yang menarik.