Mempertahankan BI 7DRR Rate, Menjaga Sentimen Positif

BI Mempertahankan BI 7DRR Rate

BI mempertahankan BI 7DRR Rate sebesar 5%, sesuai dengan estimasi para Ekonom. Ada beberapa hal menarik dari hasil Rapat Dewan Gubernur BI kemarin yang The Primary Trader sukai :

  • BI masih membuka ruang untuk penurunan suku bunga (!)
  • BI tetap akan memberikan kebijakan moneter yang akomodatif dan akan terus bekerjasama dengan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
  • BI juga percaya siklus ekonomi Indonesia telah mencapai dan melewati Bottom sehingga ke depan, ekonomi Indonesia mulai dalam tren bertumbuh. BI perkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5.3% YoY di tahun 2020

Menurut The Primary Trader, hal tersebut akan memberikan sentimen positif bagi Investor Asing terhadap Indonesia. Tidak heran bila Rupiah menguat akibat masuknya Capital Inflow.

Rupiah saat ini bertahan di Support Rp13,600 namun sangat terbuka peluang untuk terjadi Breakdown Rp13,600 dan Rupiah terus menguat menuju Rp13,250 yang merupakan level terkuat Rupiah di tahun 2018. The Primary Trader tidak yakin BI atau pemerintah akan membiarkan Rupiah terlalu menguat. Oleh karena itu, The Primary Trader melihat Rupiah akan cenderung bertahan di Rp13,500 – Rp13,700 di 1Q20 ini.

Masuknya Investor Asing ke Indonesia jelas terlihat pada pasar obligasi. Harga SUN tampaknya terus naik sehingga menurunkan imbal hasil (Yield). Terlihat bahwa Yield SUN10Yr hampir menyentuh 6.5% dan The Primary Trader percaya level tersebut akan segera disentuh dalam waktu dekat.

Melihat penguatan yang sangat besar tersebut, The Primary Trader percaya setelah menguji Support di level 6.5%, Yield akan melemah mendekati 7%. Yield masih mempertahankan Tren Menurun selama tidak naik melewati 7.3%. Dengan demikian, The Primary Trader masih melihat dalam jangka panjang, Yield dapat turun menuju 5.9%.

IHSG Mempertahankan Bullish Continuation – Masih Dalam Uptrend

IHSG masih bertahan di Support 6,200 yang artinya IHSG masih dalam pola Bullish Continuation dari sejak pertengahan Desember 2019 di rentang 6,200 – 6,350. IHSG terancam turun ke 6,100 bila terjadi Breakdown Support di 6,200 tersebut.

Meski IHSG turun ke 6,100, The Primary Trader masih percaya penurunan tersebut sebagai Tech. Correction atau penurunan singkat di tengah Uptrend. Dengan demikian, Uptrend IHSG masih terjaga sekalipun IHSG turun ke 6,100.

Saat ini IHSG mencatat Return sebesar -0.7% YTD. Tampaknya Black Swan yang terjadi secara global (tensi geopolitik di Iran dan Virus Corona dari China) menjadi sentimen negatif yang membatalkan January Effect. The Primary Trader tidak yakin IHSG dapat naik menuju 6,350 di Januari 2020.

Menanti Sesuatu Yang Positif (Dilihat Dari Rupiah)

Rupiah Menguat Mendekati Rp13,600 (Target)

Rupiah saat ini berada di kisaran Rp13,655 yang merupakan target setelah Rupiah Breakdown Support penting di Rp13,900 (di awal Januari 2020). Penguatan ini tentu mengindikasikan tren penguatan Rupiah dari Oktober 2018 di Rp15,200 masih berlangsung.

The Primary Trader melihat pergerakan Rupiah sejak Juni 2019 dari Rp14,500 adalah fase Sideways yang menandakan Wait and See Investor Asing sebelum berani masuk dan berinvestasi di Indonesia. Dengan Breakdown Rp13,900 di awal tahun 2020, ada kemungkinan niat berinvestasi sudah semakin pasti.

Dalam jangka menengah – panjang, ada potensi Rupiah terus menguat mendekati level di tahun 2016 – 2018 yaitu di kisaran Rp13,250 – Rp13,600.

Penguatan Rupiah tentu sedikit banyak menandakan minat Investor Asing untuk berinvestasi di Indonesia. Oleh karena itu, The Primary Trader memperhatikan pasar saham dan pasar obligasi.

De-eskalasi Di Valuasi Tinggi. Penguatan Rupiah, Katalis IHSG.

De-eskalasi Konflik Namun Bukan Berarti Tenang Karena S&P500 Mahal

The Primary Trader melihat potensi perang Iran – AS semakin berkurang seiring dengan kedua belak pihak tidak melanjutkan serangan balasan (terakhir adalah Iran melontarkan rudal yang dengan ‘sengaja’ tidak mengenai pangkalan militer AS). Saat ini Iran justru sedang dalam tekanan internasional karena ‘tidak sengaja’ menembak pesawat komersial Ukraina. Bahkan karena kecerobahan tersebut, ada tekanan dari masyarakat Iran untuk Ayatollah Khamenei.

Untuk pasar modal, hal tersebut terlihat pada index VIX yang menunjukkan risiko pada S&P500. Tampaknya VIX berhasil kembali melemah mendekati level standar minim risiko di 10. VIX terlihat telah bergerak Downtrend dari sejak Agustus 2019 lalu. Saat ini ancaman – ancaman Trump terhadap China semakin gencar (peningkatan tegangan Trade War). The Primary Trader melihat Down Trendline dari sejak itu sampai saat ini. Perlu dicatat bahwa bila terjadi kejadian yang berisiko tinggi dan VIX naik melewati (Breakout) Down Trendline tersebut maka VIX berpotensi terus naik menguji Resistance – Resistance penting di level 20 dan 24.

Kenaikan VIX selanjutnya dapat mengancam pergerakan S&P500 yang saat ini sudah mendekati level 3,300. Level 3,300 adalah target S&P500 sewaktu S&P500 Breakout Resistance di 2,950 pada Juli 2019. Setelah Breakout 2,950, S&P500 mengindikasikan pola Bullish Continuation (dari sejak Juni 2019) dan mengonfirmasi pola tersebut dengan Breakout 3,000 di akhir Oktober 2019. Pada saat inilah S&P50 semakin memperkuat target di 3,300.

Dengan demikian, setelah mendekati 3,300, The Primary Trader mengkhawatirkan Uptrend S&P500 dapat terganggu. Memang akan sulit untuk langsung berubah menjadi Downtrend namun setidaknya ada fase Technical Correction yaitu penurunan wajar ditengah Uptrend. Namun tentu penurunan wajar tersebut dapat mencapai ~5% atau mungkin mencapai 3,000an lagi. Investor lain pun menganggap valuasi S&P500 sudah mahal.

Rupiah Menguat Menuju Rp13,600 Menjadi Katalis Kenaikan IHSG.

Sentimen positif di awal tahun membuat Rupiah menguat dan berhasil Breakdown Support di Rp13,900 yang menahan penguatan Rupiah dari sejak awal tahun 2019. Rupiah berpotensi menguat menuju Rp13,600. Salah satu alasan Rupiah menguat adalah optimisme terhadap ekonomi Indonesia yang membuat Investor Asing masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Penguatan Rupiah karena masuknya Investor Asing tentu akan menjadi katalis kenaikan IHSG. The Primary Trader melihat ada kemungkinan (kecil) bagi IHSG untuk mengakhiri Technical Correction di 6,218 pada minggu lalu untuk kemudian naik menuju Resistance penting di 6,450.

The Primary Trader percaya Tech. Correction wajar IHSG dapat mencapai 6,150 – 6,200. Meski demikian, tentu ada katalis – katalis tertentu yang dapat membatalkan perkirakan tersebut. Salah satunya adalah de-eskalasi tensi Timur Tengah tersebut.

Uptrend + Sinyal Buy. Perhatikan TOWR.

The Primary Trader melihat beberapa saham yang dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Alert Buy yaitu : TOWR, MEDC dan ANTM. Selain itu, ada beberapa saham dalam kondisi Uptrend dan mendapat sinyal Buy Now yaitu : PTPP, BIRD dan Saham Sektor Coal (UNTR, PTBA dan ITMG).

The Primary Trader menyukai MEDC dan percaya ANTM akan mendapat sentimen positif karena kenaikan harga emas dan nikel. Namun The Primary Trader memperhatikan TOWR karena terlihat TOWR masih berpotensi Uptrend dalam jangka panjang. Setidaknya TOWR dalam jangka pendek dapat naik menuju Resistance penting di Rp920.

Saat ini TOWR sedang dalam Tech. Correction atau Throwback dengan maksimum turun menuju Rp750. TOWR yang telah Breakout Resistance di Rp750 mengindikasikan kelanjutan dari Uptrend karena The Primary Trader melihat penurunan TOWR dari tahun 2019 adalah sebagai Bullish Continuation. TOWR berpotensi melanjutkan Uptrend dari sejak Oktober 2019 di Rp450 sampai Rp850 di awal tahun 2019. TOWR berpotensi naik dalam Uptrend jangka panjang menuju Rp1,200.

Katalis utama untuk Sektor Menara Telekomunikasi di tahun 2020 adalah kemungkinan para operator telekomunikasi mengurangi kepemilikan menara dalam rangka efisiensi operasional. Selain itu, tren G5 tampaknya akan meningkatkan permintaan menara. Strategi perluasan jaringan dari para operator pun masih menjadi katalis pendorong penambahan menara. Dalam waktu dekat, TOWR sedang mengincar menara dari EXCL.

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia bulan Oktober 2019

aerial photography of cargo ship

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia bulan Oktober 2019

BPS mengumumkan Neraca Perdaganan Indonesia di bulan Okt’19 surplus sebesar USD161.3 miliar setelah impor turun lebih dalam (-16.4% YoY) dari ekspor (yang juga turun -6.1% YoY). Investor tampaknya memperkirakan terjadi Defisit Neraca Perdagangan sehingga data ini menjadi sentimen positif.

Indonesia Balance of Trade

Rupiah Bersiap Menguat

Surplus Neraca Perdagangan yang diluar ekspektasi berpotensi memberikan sentimen positif yang akan berdampak pada Rupiah. The Primary Trader masih percaya Rupiah dalam tren menguat terhadap US Dollar dengan potensi menuju Rp13,600 atau setidaknya kembali menguji Rp13,900.

Rupiah sedang tertahan di Resistance Rp14,100 dan The Primary Trader perkirakan adalah perlemahan terakhir sebelum Rupiah dalam tren menguat menuju Rp13,600 tersebut. Setidaknya Rupiah akan berada di bawah Rp14,000 di sisa tahun 2019.

Ikuti Live Chart di sini.

IHSG Masih Mempertahankan Harapan Uptrend

Dengan tetap bertahan di atas 6,110, artinya adalah IHSG masih mempertahankan peluang Uptrend setelah Bullish Continuation selesai. Data Neraca Perdagangan akan memperbesar peluang Uptrend IHSG di tahun 2020. Silahkan baca di sini.

image003 2

Yield SUN10Yr Bersiap Turun

view of city at airport

Current Account Deficit (CAD) 3Q19 Turun, Bersiap Capital Inflow

Bank Indonesia melaporkan Defisit Neraca Transaksi Berjalan (Current Account Deficit atau CAD) di 3Q19 sebesar USD7.7 miliar atau 2.7% dari GDP. CAD 3Q19 membaik karena lebih kecil dari CAD 2Q19 sebesar 2.93% dari GDP.

Tampaknya perbaikan CAD 3Q19 lebih disebabkan karena ada investasi masuk ke Corporate Bond (sebagai Portfolio Investment) ke Pertamina dan PLN yang baru saja mengeluarkan Global Corporate Bond. Selain itu, tidak adanya pembayaran Dividend ke Investor luar negeri seperti di 2Q19 pun menjaga CAD.

The Primary Trader menilai dampak dari perbaikan CAD di 3Q19 akan membuat Investor Asing semakin tertarik berinvestasi di Indonesia. Investor saat ini sedang berharap akan ada Upgrade Rating bagi Indonesia dari peringkat efek, setidaknya dari Fitch atau Moody’s. Bahkan tidak tertutup kemungkinan S&P kembali menaikkan rating seiring dengan harapan tim ekonomi Jokowi di periode 2 (yang ditopang oleh Sri Mulyani yang kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan).

Rupiah Dalam Tren Menguat

Penguatan Rupiah dengan potensi menuju Rp13,600 mengindikasikan Investor Asing memandang Indonesia dengan positif. Rupiah sendiri sedang bersiap Breakdown Support di Rp13,900 untuk terus menguat dengan potensi menuju Rp13,600. Meski demikian, kemungkinan Rupiah dijaga oleh BI di kisaran Rp14,000an mungkin akan membatalkan penguatan menuju Rp13,600 tersebut. Setidaknya untuk Rupiah, selama volatilitas menurun (stabil) maka hal tersebut sudah menjadi katalis dan sentimen positif. Rupiah sendiri mulai less-volatile sejak Jun’19.

Ikuti live chart di sini

Begitupun dengan Yield Obligasi Negara

Yield SUN10Yr yang mewakili pasar obligasi di Indonesia memastikan dalam Downtrend sejak awal Okt’19 dengan turun di bawah 7.2%. Saat ini Yield sedang dalam Support di 7% namun setelah Breakdown 7.2% lalu, Yield sedang dalam Downtrend menuju setidaknya 6.5%.

Yield masih mempertahankan Downtrend dari sejak 9% di bulan Okt’18. Perlu diingat bahwa penurunan yield berarti kenaikan harga obligasi. Tentunya hal ini sebagai akibat dari minat dari Investor terutama Investor Asing (bila dihubungkan dengan penguatan Rupiah).

Ikuti live chart di sini 

Strategi The Primary Trader

Membaiknya data makro ekonomi seperti CAD tentu akan langsung berpengaruh dengan pasar obligasi karena berkaitan dengan makro suatu negara. Meski demikian, karena ada pengaruh dari penguatan Rupiah, tentu ada beberapa sektor saham yang dapat menjadi pilihan.

The Primary Trader menyukai sektor yang banyak melakukan impor seperti Retail (MAPI dan ACES) serta KLBF (Healthcare dan atau Pharmacy).