Salah Satu Kenaikan Terbaik DJIA dan S&P500

Harapan adanya stimulus fiskal yang sangat besar (~USD2 triliun) dari pemerintah AS membuat Investor optimis sehingga terjadi kenaikan yang tinggi pada bursa saham AS (kenaikan terbesar Dow Jones dari sejak tahun 1933 dan kenaikan terbesar S&P500 dari sejak tahun 2008). Perlu dicatat bahwa meskipun stimulus belum disetujui namun dapat diharapkan akan disetujui dalam waktu dekat.

S&P500 naik sebesar 9.3% dan berhasil Breakout Down Trendline dari sejak awal Maret 2020. Breakout ini mengindikasikan Downtrend yang telah terjadi sejak akhir Februari 2020 berpotensi selesai. Namun The Primary Trader melihat adanya ancaman Dead Cat Bounce atau mungkin kenaikan tersebut adalah bagian dari Technical Rebound (kenaikan ditengah Downtrend).

Untuk dapat mengakhiri Downtrend, menggunakan Fibonacci Retracement dari pertengahan Februari 2020 (S&P500 di level 3,400) sampai level terendah tahun 2020 di 2,180an, S&P500 harus bisa melewati area 2,930 atau Fibonacci Ratio di 0.62%. Selama S&P500 tidak dapat melewati 2,930 (perlu kenaikan ~20% dari level saat ini), maka The Primary Trader percaya kenaikan tersebut adalah Technical Rebound yang belum merubah Downtrend.

S&P500 telah turun sebesar -35% dalam waktu ~23 hari perdagangan sehingga penurunan ini adalah salah satu yang tercepat sepanjang sejarah S&P500. Begitupun dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang telah turun sebesar -38% dalam waktu ~26 hari perdagangan. S&P500 saat ini berada di level tahun 2016 (2,130) yang tampaknya dapat menjadi Support kuat.

The Primary Trader percaya bahwa aksi yang cepat akan mendapat reaksi yang cepat juga. Oleh karena itu, penurunan yang cepat seperti saat ini maka akan diikuti juga dengan kenaikan yang cepat. Dengan asumsi bahwa penurunan yang cepat disebabkan oleh wabah Covid-19 maka kenaikan cepat juga disebabkan oleh wabah Covid-19 tersebut berangsung – angsur berakhir.

Reaksi cepat yang muncul tentu tidak sama persis dengan aksi cepat. Investor perlu waktu untuk mempercayai bahwa hal – hal yang membuat Panic Selling telah berakhir. Oleh karena itu, setidaknya perlu waktu 2-10x lebih lama untuk perlahan membuat Investor kembali berinvestasi. Berdasarkan sejarah pada Dow Jones, berikut adalah waktu yang dibutuhkan untuk Recovery :

Tentu ada harapan pasar saham dan pasar keuangan lain akan Recovery setelah Market memperbaiki kekurangannya (yang menjadi alasan terjadi krisis). Namun tentu Bear Market perlu waktu untuk berubah menjadi Bull Market dan Investor umumnya lebih waspada dan tidak mudah percaya sehingga memperlama terbentuknya Bull Market.

-30% Dalam Sebulan Adalah Tandanya

ROC 20 Sebesar -30% Di 2020 Dan 2008

Per hari ini, S&P500 telah turun sebesar -30% dalam 20 hari terakhir atau dari level tertingginya di 3,393 di tanggal 19 Februari 2020 – 1 bulan lalu. Menggunakan indikator Rate of Change (ROC) periode 20 atau menghitung persentase perubahan harga 20 hari terakhir, The Primary Trader melihat S&P500 cenderung mengakhiri penurunan setelah ROC 20 menyentuh angka -30%. Artinya adalah S&P500 berpotensi membentuk Bottom atau fase akhir dari penurunan setelah turun sebesar -30% dalam 20 hari terakhir.

Memang pada beberapa kasus, S&P500 masih tetap turun dalam 1-2 bulan ke depan namun dengan “kecepatan” yang lebih lambat. Bahkan sebelumnya menyentuh ROC 20 sebesar -30%, S&P500 pun sedang dalam kondisi Downtrend. Seperti pada Global Financial Crisis 2008, S&P500 menyentuh ROC 20 sebesar -30% pada pertengahan fase Downtrend. S&P500 pun masih turun sebesar -30% lagi dalam 3 bulan ke depan namun penurunan tersebut sebagai fase akhir dari Downtrend karena terbentuk Divergence antara ROC 20 dengan S&P500.

Pada kasus GFC 2008, perlu diketahui bahwa “kecepatan” atau persentase penurunan dari sejak September 2007 sampai Maret 2009 sangatlah lambat. Menggunakan derajat kemiringan, Downtrend S&P500 saat itu adalah sebesar –21 derajat atau dengan perubahan sebesar 0.16% / hari (-58% dibagi 353 hari perdagangan). The Primary Trader menilai, tren yang landai akan cenderung stabil. Hal ini karena Investor sadar bahwa kondisinya memang buruk namun relatif masih ada harapan (karena aksi The Fed dan Pemerintah AS) sehingga masih ada Minor Uptrend ditengah Major Downtrend saat itu.

Kondisi Panic Selling yang menurut The Primary Trader tidak stabil adalah ketika derajat kemiringan dari pergerakan harga mencapai > 45 derajat. Pada saat S&P500 mencatat ROC 20 sebesar -30%, saat itu derajat kemiringan S&P500 adalah sebesar -68 derajat dengan perubahan sebesar 1.3% / hari (-35% dibagi 27 hari perdagangan). Terlihat jelas bahwa pada saat itu, Investor sangat panik sehingga S&P500 mencatat volatilitas yang jau lebih besar selama GFC 2008.

Pada kondisi S&P500 di 2020, derajat kemiringan adalah sebesar -76 derajat (dilihat dari tahun 2019). Perubahan rata – rata harian adalah sebesar 1.57% / hari (-30% dibagi 19 hari perdagangan). Tentu The Primary Trader menilai Panic Selling ini tidaklah stabil. Dengan kata lain, dalam 3-6 bulan ke depan, The Primary Trader memperkirakan akan ada fase pergerakan yang menyerupai Bottoming atau Bullish Reversal dalam rangka mengakhiri Downtrend dan mempersiapkan kembali Uptrend.

ROC 20 Sebesar -30% Lainnya

The Primary Trader mencoba melihat ROC 20 sebesar -30% yang pernah dicapai S&P500 sepanjang sejarahnya (atau setidaknya sebanyak data yang tersedia di tradingview.com).

Di tahun 1987, S&P500 pernah turun sebesar -34% dalam waktu 12 hari perdagangan atau sebesar 2.8% / hari dengan derajat kemiringan sebesar -82 derajat dari awal tahun. ROC 20 saat ini menyentuh -30%. Kondisi saat itu (disebut Black Monday 1987) disebabkan antara lain oleh Computer Trading dan Derivative Instruments.

S&P500 dibuat tahun 1957 namun tradingview.com di akun The Primary Trader hanya sampai tahun 1970an. Oleh karena itu, The Primary Trader mencoba melihat Dow Jones meskipun tentu ada perbedaan dengan S&P500 namun ROC 20 dengan nilai sebesar -30% atau lebih tetap diperhatikan.

Salah satu data terseram yang The Primary Trader lihat adalah pada saat The Great Depression tahun 1929 – 1939 (10 tahun!). Saat itu Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun sebesar -90% dari September 1929 sampai Juli 1932 atau dengan derajat kemiringan sebesar -26 derajat. Sepanjang Major Downtrend tersebut, DJIA turun rata – rata sebesar 0.12% per hari (-90% selama 714 hari perdagangan).

Selama periode tersebut, ada sekitar 3x dimana ROC 20 mencapai -30% (bahkan -40% di awal periode The Great Depression). Meski masih Downtrend dalam jangka lama, setelah ROC 20 mencapai -30%, DJIA cenderung naik setidaknya setengah periode dari periode penurunan yang membuat ROC 20 mencapai angka -30%.

Tentu The Primary Trader tidak membandingkan S&P500 tahun 2020 dengan The Black Monday atau bahkan saat The Great Depression. Namun The Primary Trader ingin menunjukkan harapan bahwa S&P500 berpotensi mendekati akhir Downtrend atau setidaknya peluang penurunan rata – rata sebesar -1.57% / hari sudah mulai berkurang. The Fed sudah melakukan 2x Emergency Cut dalam sebulan terakhir yang memotong Fed Fund Rate sebesar total 150 bps (50 bps di awal Maret 2020 lalu 100 bps seminggu kemudian) dari 1.75% menjadi 0.25%. Pemerintah AS pun telah mendapat persetujuan DPR-nya AS untuk meminta stimulus dan saat ini sedang mengajukan stimulus sebesar USD1.1 triliun kepada Kongres AS.

Tentu akar masalah belum akan selesai dengan stimulus moneter dan stimulus fiskal. Namun setidaknya saat ini vaksin Covid-19 sudah mulai dilakukan tes pertama terhadap manusia. Hal tersebut tentu dapat membantu menimbulkan sentimen positif untuk Investor.

Babak Baru Perlawanan Terhadap Covid-19

Stimulus Fiskal Sebagai Harapan Untuk Bursa Saham AS

Investor kembali optimis setelah ada harapan Pemerintah AS memberikan stimulus setelah ada kesepakatan antara Pemerintah dan DPR. Saat ini rencana stimulus akan dibawa ke Senat untuk disetujui. Stimulus Fiskal tersebut diperlukan untuk menangani wabah Corona serta untuk meminimalisir dampak negatifnya terhadap ekonomi AS.

S&P500 langsung mencatat (salah satu) kenaikan terbaik sebesas 9.3% dalam satu hari tersebut. Namun The Primary Trader melihat kenaikan S&P500 tersebut belumlah mengindikasikan akhir dari Downtrend yang terjadi sejak akhir Februari 2020. Seperti kenaikan pada awal Maret 2020 (dari ~2,800 ke ~2,890), belum ada indikasi yang cukup bahwa S&P500 dapat membatalkan Downtrend.

Pada awal Maret 2020 tersebut, S&P500 harus Breakout Resistance di ~2,900 untuk dapat membatalkan Downtrend. Oleh karena itu, Downtrend masih intact dan S&P500 kembali turun. Disaat S&P500 mencatat kenaikan sebesar 9.3% dalam satu hari, S&P%500 masih belum mampu Breakout Resistance yang diperlukan untuk membatalkan Downtrend yaitu di ~2,750.

Oleh karena itu, The Primary Trader masih menunggu S&P500 Breakout 2,750 yang membuka peluang untuk membatalkan Downtrend di minggu depan. Sampai saat ini, The Primary Trader masih melihat wabah Corona masih menjadi sentimen negatif yang belum akan selesai selama obat dan atau vaksinnya ditemukan.

VIX Masih Tinggi Tanda Investor Masih Khawatir

Meski wabah Corona belum akan selesai namun Investor tampaknya mulai melihat risiko pasar yang terjadi sedikit mereda dengan adanya paket stimulus fiskal dari AS. VIX menunjukkan penurunan meskipun sempat menyentuh level 80. Level VIX pada Global Financial Crisis (GCF) ada di 96.4 sehingga hanya tinggal 16 poin lagi maka Investor menganggap kondisi saat ini sama gentingnya dengan kondisi pada GFC 2008 lalu.

Penurunan kekhawatiran Investor akan kondisi pasar (yang ditunjukan dengan penurunan VIX) cukup penting mengingat baru – baru ini tampaknya Investor merasa sangat khawatir sehingga memilih Hoarding Cash (USD Index telah menguat ~4% dalam seminggu terakhir) instead of membeli Safe Heaven.

Jual Emas (Safe Heaven), Pegang (Hoarding) Kas

Harga emas saat ini turun dan terancam membatalkan Uptrend yang telah terjadi sejak awal tahun 2019. Emas perlu bertahan di atas USD1,550 untuk mempertahankan Uptrend menuju USD1,800. Breakdown valid di USD1,550 akan mengancam emas turun menuju USD1,370.

Penurunan harga emas adalah salah satu indikasi Investor tidak yakin akan adanya inflasi. Hal ini karena selama ini emas digunakan untuk Hedge Against Inflation. Dengan adanya potensi pertumbuhan ekonomi maka Investor mengincar emas sejak tahun 2018. Tentu harga emas juga naik karena antisipasi adanya perang (dimana pada saat perang, hanya aset emas yang dinilai berharga). Namun tampaknya Investor menganggap kondisi saat ini relatif aman setelah sempat dikhawatirkan terjadi perang AS – Iran di awal tahun 2020 (saat ini harga emas naik 6% di minggu pertama tahun 2020).

Menunggu Aksi Bank Sentral

Minggu depan akan ada jadwal FOMC Meeting The Fed dan RDG Bank Indonesia. Diestimasikan The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.75% dari 1.25% menjadi 0.5%. Sementara diestimasikan BI memotong 0.5% dari 4.75% menjadi 4.25%.

Perlu diingat bahwa BI telah menurunkan 0.25% pada bulan Februari dari 5% menjadi 4.75% – lebih cepat dari estimasi karena sebelumnya BI diperkirakan akan menunggu The Fed memotong suku bunganya. Kejadian diluar estimasi kembali terjadi dimana pada awal Maret 2020, The Fed memotong Fed Fund Rate sebesar 0.5% dari 1.75% menjadi 1.25%. Cukup jarang The Fed melakukan Cut Rate di luar FOMC Meeting dan Emergency Cut Rate The Fed terakhir adalah pada tahun 2008 lalu (saat Global Financial Crisis).

rbc

Apabila melihat respon dari The Fed (dan bank sentral lainnya), tentu Investor berpikir bahwa dampak wabah Corona terhadap ekonomi global cukup signifikan.

Bantuan Emiten + Dapen + Asuransi Untuk IHSG

Minggu lalu, secara resmi otoritas mengizinkan emiten buyback sahamnya sendiri tanpa persetujuan pemegang saham. Hal ini karena terjadi penurunan harga saham yang dalam tanpa disebabkan penurunan kinerja perusahaan. Oleh karena itu, banyak emiten yang sudah bersiap untuk buyback namun tampaknya baru terlihat terjadi pada Jum’at 13 Maret 2020. Hari itu, IHSG turun -5% dan memicu penghentian transaksi di awal sesi 1. Namun pada sesi 2, ada lonjakan sebesar 6% dimana tampaknya merupakan Investor Domestik.

Meski terlihat positif, The Primary Trader melihat kenaikan tersebut belum cukup untuk membalikkan tren yang sedang terjadi pada IHSG yaitu Downtrend.

The Primary Trader tidak heran bila IHSG menyentuh level ~4,700. Hal ini karena melihat pada akhir tahun 2015 dimana IHSG dapat turun dan mencapai ~23% di bawah MA200. Saat ini IHSG sudah mendekati ~25% di bawah MA200 dan memang ada indikasi IHSG sudah Bottoming – bila mengaca pada kondisi tahun 2015 tersebut. Memang pada kasus ekstrim seperti GFC 2008, IHSG pernah -105% di bawah MA200 dan tentu The Primary Trader yakin kondisi tersebut tidak akan tercapai di tahun 2020 karena wabah Corona ini.

Meskipun Investor Lokal + Emiten sedang melakukan Buyback untuk menyelamatkan IHSG, The Primary Trader tidak yakin IHSG dapat segera naik. Hal ini karena IHSG perlu dana asing dari Investor Asing untuk naik. Tren Net Sell Asing masih terus terjadi di tahun 2020 dan begitupun sepanjang Maret 2020. Hal ini yang akan menyulitkan IHSG untuk naik.

Namun demikian, perlu diingat bahwa Net Sell Asing yang masif tersebut membuat IHSG saat ini Under Owned Asing. Hal ini dapat memperkecil peluang IHSG kembali turun lebih dalam. Tentu karena tidak ada lagi Seller yang masih memiliki saham – saham IHSG dalam jumlah yang signifikan sehingga ketika Seller tersebut menjualnya maka tercipta penurunan harga.

Kapan IHSG Dapat Naik?

The Primary Trader menilai bahwa masalah saat ini adalah adanya wabah penyakit. Oleh karena itu tentu untuk menyelesaikan masalah maka wabah penyakitnya harus dihilangkan dengan adanya obat penyembuh sekaligus vaksin untuk menghindari penyakitnya. Sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang dapat digunakan secara luas dan aman. Diperkirakan baru akan tersedia di tahun 2020. Namun demikian, setidaknya penyakit tersebut dapat ditekan penyebarannya sehingga kondisi Pandemi dapat hilang.

Wabah Corona di China sudah mulai berkurang. Banyak pasien yang sudah sembuh dan bahkan ~13 RS Darurat sudah ditutup karena tidak ada pasien baru lagi yang membutuhkan RS tersebut.

Tantangannya adalah negara – negara lain karena saat ini penyebaran Corona ada di wilayah Eropa. Perlu diingat bahwa ekonomi Uni Eropa (yang terdiri dari banyak negara di Eropa) adalah ekonomi terbesar kedua di Dunia (lebih besar dari China). Bila ekonomi Uni Eropa menurun akibat wabah Corona maka tentu ekonomi global akan semakin tertekan.

Wabah Corona secara global masih dalam tren meningkat namun penyebaran di negara – negara setelah China seperti Korea Selatan dan Iran sudah mulai terlihat puncaknya. Diharapkan kedua negara tersebut segera pulih dan kasus baru terus menurun. The Primary Trader pun berharap negara Italia, Perancis dan Spanyol sudah mendekati puncak sehingga dalam waktu dekat akan terjadi tren penurunan kasus (tentu dengan pasien sembuh yang lebih banyak).

Investor domestik sedang memantau perkembangan kasus Corona di Indonesia. Per 15 Maret 2020, ada 117 pasien yang positif Corona di Indonesia. Sampai 14 Maret 2020, sudah ada 8 pasien yang sembuh dan dipulangkan sementara 5 pasien meninggal dunia. Bila melihat persentasenya, tingkat kematian Corona di Indonesia tampaknya tinggi (8 / 117 = 6.8%. Perlu diingat bahwa pasien yang terdeteksi positif tersebut baru mulai terjadi di awal Maret 2020. Dengan demikian, perawatan para pasien baru memasuki minggu ke-2. Mengaca pada kasus China, mulai terjadi peningkatan pasien yang dipulangkan dari RS pada pertengahan Februari 2020. Dengan demikian, setidaknya perlu 3-4 minggu untuk dirawat di RS. The Primary Trader berharap pasien yang dipulangkan mulai akan meningkat pada akhir Maret 2020 atau awal April 2020.

Pada saatnya nanti mulai terlihat penurunan kasus Corona, The Primary Trader yakin minat beli akan mulai muncul. Dengan demikian, harapan akan kenaikan IHSG mulai membesar. Untuk saat ini, The Primary Trader perkirakan sebagus apapun stimulus fiskal dan moneter masih belum akan mampu membalikkan tren IHSG dari Downtrend menjadi Uptrend.

Ada banyak Resistance – Resistance baik dari Down Trendline maupun dari Gap Down yang menahan IHSG untuk mengawali Uptrend. Resistance terpenting tentu adalah 5,700 yang merupakan Down Trendline dari sejak pertengahan Januari 2020 serta Lower High terakhir dari penurunan sejak pertengahan Januari tersebut. Resistance berikut adalah dari Gap Down yaitu di level 5,050 – 5,110 serta 5,360 – 5,500.

The Primary Trader sedang bersiap – siap untuk membeli saham karena memang sudah sangat murah sekali. Namun tentu dengan strategi Averaging Down karena saat ini sangat sulit sekali memperkirakan Bottom. Kenapa? Karena ketika terjadi sesuatu yang menakutkan maka Panic Selling akan terjadi dan saat ini, rasionalitas sudah berkurang.

Semoga wabah Corona segera berakhir dan masyarakat Indonesia (serta dunia) segera sehat dan aman.

Penentuan Awal

Dua (Potensi) Bottom Untuk IHSG

The Primary Trader melihat ada harapan IHSG berhenti turun di 5,450 karena posisi IHSG di level tersebut berada pada 12% di bawah MA200 atau rata – rata tahunan. Sejak tahun 2011, posisi IHSG 12% di bawah MA200 mengindikasikan tingkat Jenuh Jual atau Oversold yang pada akhirnya membuat IHSG kembali naik mendekati atau bahkan melewati MA200.

Namun pada tahun 2015 akhir, IHSG ternyata terus turun dan mencapai level 23% di bawah MA200. Ada harapan IHSG bertahan di 5,450 karena kecenderungan IHSG yang Oversold pada posisi 12% di bawah MA200 (dimana saat ini MA200 di 6,186 maka 88% dari level tersebut adalah ~5,450). Namun mengingat kondisi saat ini dapat dikatakan sudah dalam keadaan Panic Selling maka The Primary Trader tidak heran bila IHSG terus turun mendekati level 23% di bawah MA200 yaitu di 4,770.

The Primary Trader perkirakan pada hari Senin, 2 Maret 2020, akan menjadi penentu apakah IHSG bertahan di 5,450 atau kembali “Stretch” ke 4,770.

Manufacturing PMI Menjadi Kunci Utama

China, Indonesia dan AS dijadwalkan mengumumkan Manufacturing PMI bulan Februari 2020 pada Senin, 2 Maret 2020. Manufacturing PMI adalah salah satu indikator ekonomi utama untuk mengestimasikan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Manufacturing PMI menunjukkan aktifitas sektor manufaktur (pabrik) dan angka indeks Manufacturing PMI di atas 50 menunjukkan potensi ekonomi berekspansi dan di bawah 50 menunjukkan potensi ekonomi berkontraksi.

Ekonom memperkirakan Manufacturing PMI China di bulan Februari 2020 turun di level 46.1 dari 51.1 di bulan Januari 2020. Bila indeks tersebut di bawah 50 maka ada potensi ekonomi China berkontraksi.

Kontraksi ekonomi China inilah yang menjadi kekhawatiran Investor Global karena saat ini ekonomi China hampir mencapai 20% dari ekonomi dunia. Bila ekonomi China kembali turun maka ekonomi dunia pun akan ikut turun.

Di satu sisi, ekonomi AS di tahun 2020 cukup baik. Bahkan The Fed terdengar yakin akan mempertahankan Fed Fund Rate di saat bank sentral lain (termasuk BI) menurunkan suku bunga dalam menghadapi dampak negatif ekonomi karena wabah Corona. Tentu pernyataan tersebut dapat terganggu mengingat minggu ini AS mengumumkan 15 kasus infeksi Corona yang tidak diketahui asalnya (!). Namun data Manufacturing PMI AS pada Senin, 2 Maret 2020, tentu akan menjadi pertimbangan awal bagi Investor maupun The Fed dalam menilai dampak wabah Corona terkini.

Kembali ke China, ada harapan data Manufacturing PMI bulan Februari 2020 tidak turun sejauh 46.1 dari 51.1. Hal ini karena pabrik – pabrik di Hubei (provinsi dimana Wuhan berada) sudah mulai kembali beraktifitas dipertengahan Februari. Menjelang akhir Februari 2020, kapasitas pabrik sudah berjalan 30% – 50% dan ditargetkan berjalan 70% di awal Maret 2020. Dan tentu meskipun China menyumbang ekonomi dunia sebesar ~20%, ekonomi provinsi Hubei sendiri hanya mencapai 4.6% dari total GDP China sehingga gangguan terhadap keseluruhan ekonomi China diharapkan tidak sebesar penurunan Manufacturing PMI tersebut.

Sejak Juli 2019, Manufacturing PMI Indonesia di bawah 50 sehingga menandakan ekonomi sedang berkontraksi. Meski demikian, Manufacturing PMI Indonesia sebenarnya mulai naik sejak Oktober 2019 namun sedikit turun di Januari 2020 akibat banjir di awal tahun dan dampak awal wabah Corona. The Primary Trader melihat bila nanti Manufacturing PMI Indonesia tidak lebih rendah dari posisi di bulan Oktober 2019 di level 47.5 maka dapat disimpulkan dampak wabah Corona di Indonesia tidak separah di negara – negara lain. Seharusnya hal tersebut akan menjadi katalis positif bagi IHSG untuk tidak turun menuju 4,770.

Indonesia Manufacturing PMI

Sentimen Bullish Dari Candlestick Pada IHSG

IHSG membentuk pola single candle dari Candlestick yaitu Hammer. Menariknya, Hammer terbentuk di Fibonacci Extension level 261.8% sehingga dapat diharapkan indikasi untuk naik. Meskipun ada indikasi naik namun pertanyaan pentingnya adalah apakah kenaikan yang ada adalah sebagai Technical Rebound saja atau akan ada perubahan dari Downtrend saat ini menjadi Uptrend. The Primary Trader perkirakan kenaikan yang terjadi (bila kondisi mendukung, antara lain Manufacturing PMI yang tidak seburuk perkiraan) adalah sebagai Tech. Rebound saja dengan kenaikan tidak lebih tinggi dari 5,700 (level Fibonacci Extension di 161.8%).

Investor Global Masih Panik

The Primary Trader melihat VIX Index dan menyimpulkan bahwa Investor global masih dalam Panic Mode sehingga tampaknya Downtrend masih akan berlanjut. Saat ini VIX berada di level 40 atau lebih yang sama yang terjadi pada setiap Bearish Market.

Beberapa kali kejdian dimana VIX berada di level 40 yaitu pada Downtrend S&P500 di 2H11, 3Q15, 1Q18 dan 1Q19. Meski demikian, Downtrend pada waktu – waktu tersebut dapat dianggap sebagai Tech. Correction di tengah Uptrend Jangka Panjang. Dengan demikian, S&P500 masih dapat diharapkan terus mempertahankan Uptrend Jangka Panjang-nya.

S&P500 mungkin sudah mendekati Support di 2,800 dan terlihat membentuk Hammer sehinggga dapat diharapkan terjadi kenaikan. The Primary Trader masih perkirakan kenaikan tersebut (bila naik) adalah sebagai Tech. Rebound dan masih dapat naik sampai mendekati 3,100. S&P500 telah Breakdown Up Trendline di 3,300 pada pertengahan Februari 2020 dan hal tersebut menjadi tanda Downtrend Jangka Pendek – Menengah (sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang).

Investor di China sendiri sebenarnya terlihat optimis tidak lama setelah bursa dibuka (paska libur Chinese New Year yang diperpanjang). Memang Shanghai Composite sempat turun ~9% dihari pertama perdagangan paska ditutup pada awal wabah Corona. Namun setelah itu, Shcomp berhasil naik mendekati level sebelum wabah Corona (naik dari level 2,800 ke level 3,080). Ternyata Shcomp terlihat gagal naik di atas 3,080 – 3,120 sehingga The Primary Trader perkirakan tren harga Shcomp masih Downtrend dan Shcomp berpotensi turun menuju level 2,400 dengan Breakdown Support 2,730.

The Primary Trader meyakini di tahun 2020 ini, wabah Corona akan berakhir setelah penyebaran penyakit dapat diatasi dan obat serta vaksin sudah dapat diproduksi (meski masih dalam tahap awal). Namun dampak ekonomi akibat pembatasan aktifitas masyarakat akan terasa di tahun 2020 dan cukup signifikan. Bank sentral serta pemerintah akan mengeluarkan stimulus moneter maupun fiskal dimana hal tersebut akan berdampak positif langsung pada obligasi (di tahun 2020 ini). Namun demikian, dampak positif pada pasar saham kemungkinan baru akan terlihat di 2H20 atau bahkan di tahun 2021 nanti.

Sebelum berbicara pergerakan jangka panjang IHSG dan bursa saham lain, tentu data di hari Senin, 2 Maret 2020 berpotensi menjadi penentu awal yang signifikan.

Pendemik Corona Yang Mulai Membuat Panin Secara Global

Semakin Menyebar

Meskipun China terlihat berhasil membatasi penyebaran Corona dari sumber Wuhan, ternyata kasus Corona di berbagai negara terus bertambah. Tidak lama setelah Korea Selatan menyatakan darurat di pekan lalu, Italia mencatat peningkatan kasus infeksi.

Virus Corona relatif tidak mematikan namun penyebarannya sangat kuat sehingga menjadi kekhawatiran masyarakat global. Terlebih lagi virus ini memberi dampak pengurangan aktifitas termasuk aktifitas bisnis di China yang saat ini menyumbang 18% terhadap ekonomi global (dibandinkan tahun 2003 pada kasus SARS dimana ekonomi China 7% – 8% dari ekonomi global).

S&P500 Breakdown Up Trendline

S&P500 yang sebelumnya cukup kebal dan berhasil Recovery pada puncak virus Corona di akhir Januari 2020 akhirnya terlihat “menyerah”. S&P500 Breakdown Up Trendline sehingga mengancam Uptrend menuju 3,500. Ada ancaman S&P500 turun menuju 3,000 sebagai bagian dari awal Downtrend. Meski demikian, masih ada harapan penurunan S&P500 mendekati 3,000 tersebut sebagai bagian dari Tech. Correction dari Uptrend Jangka Panjang (yang juga bisa dilihat sebagai Downtrend Jangka Pendek).

Penurunan S&P500 sebagai bagian dari kepanikan Investor terlihat dari VIX yang melonjak melewati level 24 yang menjadi Resistance kuat sejak awal tahun 2019. Hal ini menunjukkan kekhawatiran Investor terhadap virus Corona itu sendiri yang menyebar dan juga kekhawatiran perlambatan ekonomi yang signifikan karena dampak Corona.

Selain itu, melihat Yield Spread antara Yield US Treasury 10 Tahun dengan 2 Tahun, mulai kembali terlihat potensi Negative Spread yang artinya Yield US2Yr lebih tinggi dari Yield US10Yr. Negative Spread selama ini (sejak tahun 1980an) menandakan adanya resesi di AS.

Saat ini Spread antara Yield US10Yr dengan US2Yr masih sebesar 0.15%. Namun seiring dengan S&P500 sudah Breakdown Up Trendline dan terancam Downtrend, hal ini menandakan potensi Investor swithing dari Equity Market ke Bond Market yang lebih aman. Switching tersebut berpotensi terus menurunkan Yield US Treasury dan membuat Negative Spread bila Investor lebih banyak membeli Yield US10Yr sebagai antisipasi resesi.

Apakah IHSG Sudah Bottom ?

IHSG telah Breakdown Fibonacci Extension di 127.2% atau di 5,831 sehingga kemungkinan besar saat ini IHSG sedang dalam penurunan menuju 5,700an atau di 161.8%.

Secara historis, IHSG memiliki dua Support yaitu di 5,770 yang merupakan Lowest di tahun 2019 dan 5,600 yang merupakan Bottom (Sideways) terpanjang sepanjang sejarah IHSG atau sekitar 8 bulan di tahun 2018. The Primary Trader perkirakan IHSG akan mulai Bottoming di level 5,600 – 5,700.

Create your website with WordPress.com
Get started